Jun 3, 2018

Mbulusukan ke Bulukumba (Bira, Ara, Tanah Beru)

Tebing Apparalang yang hits di Bira
Tebing Apparalang yang hits di Bira
Mei 2018 yang lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah saya bisa bermain bareng (hanya berdua) bersama sang Bapak yang biasanya dari jaman SMP selalu adu debat mulut dan gak pernah akur, sesuatu yahhh. Alasan bermain bareng ini juga bukan karena tanpa alasan, saya dan bapak mengunjungi salah satu tempat di Sulawesi Selatan bernama Bulukumba, lebih tepatnya Desa Bira. Singkat cerita, alhamdulillah karena bisnis tripku @kamanatrip yang Insha Allah akan menjadi tour operator di Labuan Bajo, trafficnya semakin meningkat dan membuat diriku ingin membuat kapal sendiri untuk membahagiakan konsumen dengan kapalku sendiri. Yang belum follow IG @kamanatrip, follow yah! Saya janji bakal buat diskon bahkan beberapa kuota gratis kalo kapal ini nantinya sudah jadi, camkan itu!

Kami berdua berangkat dari Bandung menuju Makassar terlebih dahulu, sebenarnya untuk flight itu lebih murah dari Jakarta. Dari Jakarta-Makassar hanya Rp 600.000, sedangkan dari Bandung bisa sekitar Rp 900.000-1.000.000 tapi karena mengingat tol Jakarta-Bandung aja macet dan butuh waktu agak lama, jadi kami memutuskan untuk ambil flight direct dari Bandung.

Sampai di Makassar, kami menginap dulu satu malam di daerah Pecinannya Makassar sambil makan Konro Makassar di tempat habitatnya uyeeeehhh! Gak banyak yang dilakukan selama di Makassar, karena kami hanya mampir aja. Oh iya, kami sempat mampir di Pantai Losari yang letaknya gak jauh dari hotel tempat kami menginap. Cuman sayangnya hujan jadi gak sempat foto-foto disana.

Keesokan harinya kami menuju Bulukumba menggunakan travel yang bernama BMA Trans. Sebenarnya ada beberapa opsi menuju Bulukumba dari Makassar yaitu antara lain:
  1. Naik bus dari Terminal Mallengkeri jurusan ke Selayar. Berangkat setiap hari jam 9 pagi. Lalu turun di Bulukumba atau Tanjung Bira sebelum kapal menyebrang ke Selayar. Untuk baliknya juga kita harus menunggu bus dari Selayar di Pelabuhan Bira. Biayanya sekitar Rp 60.000
  2. Naik pete-pete (semacam angkot dengan desain mobil pribadi ada innova, kijang, dll) dari Terminal Mallengkeri sampai ke Bulukumba atau Bira. Biayanya Rp 60.000 juga. Tapi minusnya biasanya supir menunggu sampai penumpang penuh dan biasanya agak dipaksakan. Mobil kijang yang 1 mobil maksimal 8 orang dipaksakan menjadi 10-12 orang.

Kantor BMA Trans
Kantor BMA Trans
Opsi yang terakhir dan opsi ini yang dipakai oleh kami. Memang opsi ini paling mahal tapi karena saya bawa sang bapak yang agak besar dan selaku investor jadi wajar dong service yang enakkk :)) Naik BMA Trans ini biayanya Rp 100.000/orang dari Makassar ke Bulukumba serta sebaliknya. Mobilnya besar, elf-elf gitu semacam X-Trans/Baraya di Bandung-Jakarta. Seatnya nyaman jadi perjalanan 6 jam ke Bulukumba tidak terlalu terasa melelahkan.

Di tengah perjalanan juga di sekitar daerah Jene Ponto, mobil beristirahat di rumah makan untuk shalat dan makan siang. Hanya opsi ini agak sulit kalau berangkatnya kesiangan seperti kami. Jadi kami berangkat dari Makassar jam 1 siang dan baru sampai di Bulukumba jam 7 malam, sedangkan kami harus lanjut perjalanan ke Bira yang masih 1 jam perjalanan lagi, dan jam segitu sudah tidak ada angkot yang menuju ke Bira. Alhasil kami hanya menunggu saja di pinggir jalan, berharap ada mobil/angkot yang lewat dan searah pulang ke Bira. Dan memang jodoh tidak kemana, ada mobil yang menawarkan angkutan ke Bira karena dia mau pulang juga ke Bira, tapi memang bayarnya agak mahal sekitar Rp 50.000/orang, normalnya sih kalau siang Rp 20.000/orang aja, tapi karena gak ada opsi lain jadi kami ambil saja.

welcome to Bira
Welcome to Bira! (sesepi ini ya)
Karena kegiatan kami lebih banyak di Bira jadi daripada tinggal di Kota Bulukumbanya kami lebih memilih untuk tinggal di Desa Biranya. Dan nginepnya deket banget dari Pantai Tanjung Bira yang terkenal dengan pasir putihnya yang terkenal itu! Kami menginap di Youzard Guest House yang letaknya 200 meter dari bibir pantai. Kamarnya luas banget, ada AC, ada TV dan harganya hanya Rp 150.000 per malam! Cocok banget lah buat longstay selama 1 minggu di Bira. Untuk keliling-keliling kami sewa motor di Warung Bamboe (yang juga tempat makan) seharga Rp 60.000/hari dan dapet motor N-Max, murah bingits!

Youzard Guest House
Homestay tempat kami menginap
Sayangnya ketika kami disana, cuacanya agak kurang mendukung karena setiap hari hujan melulu! Sampai 2 hari kami tidak bisa kemana-mana karena hujan dan badai disana. Tapi setelah itu cuacanya kembali cerah, yihaaaa time to EXPLORE!

Selama di Bulukumba ini, kami akan mblusukan ke desa-desa pembuatan kapal sambil main ke tempat wisata ke beberapa lokasi di setiap desanya. Jadi Bulukumba ini terbagi dari beberapa bagian yaitu Kota Bulukumba itu sendiri, lalu Desa Tanah Beru, Desa Ara dan Desa Bira (tempat kami menginap ini ada di Desa Bira dan desa ini yang paling ramai wisatawan).

DESA BIRA (Bira Beach, Bara Beach)


Pantai Tanjung Bira (Bira Beach)
Pantai Tanjung Bira (Bira Beach)
Karena kami tinggal di Desa Bira, di setiap harinya pasti kami selalu explore daerah Desa Bira ini. Disini yang paling terkenal adalah Pantai Tanjung Bira yang memiliki pasir yang sangat putih dan gradasi laut yang sangat terlihat (putih, biru muda, biru tua). Di pantai ini banyak yang bisa dilakukan seperti water sport, karena banyak yang menawarkan mulai dari banana boat dan masih banyak lagi. Rata-rata permainan disini harganya Rp 25.000 per orang/wahana. Selain itu juga bisa main di pinggir pantai atau santai di warung-warung pinggir pantai sambil minum Es Kelapa, segar! Dari penginapan kami ke pantai ini hanya 200 meter aja, jalan kaki aja bisa.

Bara Beach!
Bara Beach!
Tidak jauh dari Pantai Tanjung Bira, ada pantai bernama Pantai Bara. Bagi orang yang tidak terlalu suka keramaian, pantai ini cocok banget didatangi. Pantainya masih sepi pake banget! dan pantai dan air lautnya gak kalah cantik. Bahkan menurutku pantai ini lebih keren dan lebih nyaman karena gak terlalu banyak orang. Rasanya bisa lebih chillin dan menikmati suasana pantainya. Banyak warung-warung di pinggir pantai yang menyediakan berbagai makanan dan minuman dan juga es kelapa! Banyak anak-anak muda yang mendirikan tenda disini, kalo ada waktu saya pun ingin deh camping disini, pasti seru banget!

Dan fakta aneh yang masih belum terbongkar disini yaitu hawanya jauh lebih sejuk dibanding di Pantai Tanjung Bira. Di Pantai Bara ini kayanya gak teralu panas bahkan lebih ke sejuk entah mungkin karena banyak pepohonan entah karena waktu itu waktunya sunset dan matahari terdapat di belakangnya. Entah, yang penting i love this beach!

Selama di Desa Bira ini kami mblusukan ke Panrang Hulu, tempat pembuatan kapal yang terletak di dekat Pelabuhan Bira. Tidak terlalu banyak kapal yang dibuat disini dan harganya terlampau tinggi jadi kami coba cari ke daerah lain.

DESA TANAH BERU (Tanah Beru, Lemo-Lemo)


Tanah Beru, sentra pembuatan kapal yang terkenal di seluruh dunia
Tanah Beru, sentra pembuatan kapal yang terkenal di seluruh dunia
Desa selanjutnya yang kami datangi adalah Desa Tanah Beru. Desa ini terletak hampir 50 km dari Desa Bira atau sekitar satu setengah jam perjalanan. Tanah Beru ini adalah sentra pembuatan kapal yang terkenal di seluruh dunia, dan banyak banget kapal-kapal besar yang sedang dibuat disini. Ada yang dikirim ke Eropa sampai ke Daratan Cina, keren ya? Walaupun ini merupakan sentra pembuatan kapal, tapi harga disini terlampau mahal mungkin karena yang pesannya udah bule-bule jadi harganya naik.

Disini selain melihat proses pembuatan kapal kalau kita bisa ketemu dengan owner setiap toko, kita bisa minta izin untuk melihat ke setiap kapalnya, jangan nekat tanpa izin masuk yaaaa karena mereka punya aturan masing-masing yang berbeda. Pantainya disini agak kotor mungkin karena banyak sisa-sisa pembuatan kapal seperti kayu atau limbah lainnya yang tidak terambil dan menyebar ke pantai dan laut. Walaupun begitu, Tanah Beru ini merupakan salah satu tempat yang wajib di datangi ketika sedang liburan ke Tanjung Bira.

Pantai Lemo-Lemo
Pantai Lemo-Lemo
Saat perjalanan pulang ke Bira, kami juga mengunjungi Pantai Lemo-Lemo yang direkomendasikan oleh salah satu teman yang pernah berkunjung kesini. Umumnya pantai ini adalah pantai rakyat yang sering dipakai oleh orang lokal di Bulukumba untuk menghabiskan waktu liburan. So local banget disini! ada bakso bakar di pinggir jalan, dan suasananya lovely banget apalagi kalau bisa sambil berinteraksi dengan orang lokal juga. Pantainya putih dan airnya jernih banget disini, tapi sayang mungkin karena kurang terurus pantainya agak banyak sampah, but overall keren banget pantainya!


DESA ARA (Apparalang Cliff)


Apparalang Cliff!
We are in Apparalang Cliff! (mirip gak?)
Desa yang terakhir kami kunjungi adalah Desa Ara, desa ini terletak tidak jauh dari Desa Bira tempat kami menginap. Hanya berjarak 10 km atau sekitar 15 menit perjalanan dari Desa Bira. Awalnya kami mengunjungi tempat pembuatan kapal di salah satu pantai dan lokasinya berada di pedalaman dan sangat terpencil (lokasi dirahasiakan :p). Kami mampir di pantai tersebut untuk menemui sang nakhoda pembuat kapal yang merupakan orang asli Desa Ara dan mendapatkan ilmunya yang telah turun menurun dari nenek moyangnya yang seorang pembuat kapal.

Jadi Sulawesi Selatan ini terkenal dengan penjelajah laut terutama Suku Bugis, sedangkan Desa Ara ini daridulunya memang pembuat kapalnya, jadi hampir 100% orang Desa Ara adalah pembuat kapal, tukangnya dan ada juga ownernya. Bahkan beberapa pembuatan kapal di Indonesia misalkan di Tanah Beru, Labuan Bajo, Maluku biasanya berasal dari Desa Ara ini.

Setelah berbincang-bincang sangat lama, kami akhirnya pamit karena kami juga berencana untuk mampir di salah tempat terkenal di Bulukumba yaitu Tebing Apparalang. Dengan berbaik hati bapak tersebut bersedia megantarkan kami dengan mobilnya menuju Tebing Apparalang melewati hutan-hutan.

Tebing Apparalang #1
Tebing Apparalang #1
Tebing Apparakang #2
Tebing Apparakang #2. Biru banget kan gaessss!
Sesampainya di Apparalang kami langsung menuju tebing yang hits itu dan memang tebing ini membuat saya terdecak kagum. Begitu indahnya disini dan juga air lautnya yang terlihat sangat biru sampai mataku kelilipan!!!! (lebay). Tapi emang bener indah banget disini, apalagi sambil liat anak anak lokal disini loncat-loncat dari tebing, uuuhh so lovely!

Sayangnya saat sampai disini, waktu itu matahari ada di sisi yang lain dan hari sudah mulai gelap jadi mungkin gak maksimal, next saya bakal ke Bulukumba lagi dan wajib dateng kesini lagi pas siang hari. Pasti viewnya lebih gila lagi!

Sudah deh! Selama 7 hari kami di Bulukumba kami kembali lagi ke Makassar dan kembali menuju Bandung untuk melanjutkan aktifitas. Oiya, saya buat kapal ini untuk wisata Sailing Komodo di Labuan Bajo, kalo kalian mau cobain kapalnya nanti (perkiraan 2019 awal sudah jalan) kalian bisa mulai kepin @kamanatrip dari sekarang yaaa, saya janji bakal kasih-kasih diskon dan seat gratis!

Terus yang mau main ke Tanjung Bira jangan lupa bawa kamera, karena kalo gak bawa kalian bakal nyesel, this place is so wonderful guys! Selamat berlibur ya!


⏩ Follow Instagram @irhamfaridh to explore #AkangBolang journey! ⏪









19 comments:

  1. Epic! Bira sungguh epic!
    Saya benaran terkesima oleh berbagai macam warna biru yang melebur jadi satu antara langit, laut, dan pinggir pantainya.

    Anyway, saya doakan semoga cepat terwujudkan kapalnya bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren banget sumpah, pengen baik lagi kesana. Yuk!

      Amin ya Allah dan doakan juga rezekinya :)

      Delete
  2. cuaca awannya gloomy ya, jepret gambar masih enak. harga tiket jakarta ke makasar masih terjangkau ya, kalau aku ke palembang harus dobel biaya dulu.

    oh ya dari bulukumba pas mau balik ke makasar ada travel lagi yang sama ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa koh tapi ya kurang menguning jadinya hehehe

      Iya tapi harus naik angkot dulu sampai Bulukumba koh

      Delete
  3. langinya bagus, air pantainya jernih what a heaven!

    ReplyDelete
  4. Tempatnya memang indah mas; tapi yang jelas aku suda sama kombinasi warna fotomu mas hahahah.

    ReplyDelete
  5. Jadi pengen ke Makasar Sulawesi nih

    ReplyDelete
  6. wow keren nih, satu hal yang bisa dakuw ambil sebagai pelajaran buat diri pribadi yg dulunya jarang dekat sama bapaknya sekrg bisa dekat nah terkadang traveling juga bisa mendekatkan ya kak. dan quality time ya gini deh cara terbaiksss hahahah
    kalau dilihat dr pantainya jadi pengen ke desa bira nih dingin sejuk cocok buta photoshoot ya kak hhuhuhuh next trip bisa jadi rekomnedasi nih

    ReplyDelete
  7. Family goal banget bisa ngetrip sama bokap sendiri

    ReplyDelete
  8. Akang mukanya mirip banget sama ayahnya. Seneng bs liat ayah sama anak bisa liburan bareng.


    Oh iya, sukses terus ya kang buat trip di Labuan Bajonya. Semoga Kamanatrip bisa terus jadi tour operator yg bertanggung jawab di NTT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha iyalah wong anaknya

      Amin! Doakan juga rezekinya yaaa! :D

      Delete
  9. bapak anak sama2 punya jiwa traveling nih, kereeen bisa kompak.

    klo bapak gue mah malah ga suka jalan2, sukanya malah dirumah aja

    ReplyDelete
  10. Ihh asyik pisan mau bikin kapal sendiri...aku mau coba pakai @kamanatrip, ah. Sama satu lagi itu liatnya seneng banget anak-bapak ngebolang berdua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheheehe ditunggu teh di Labuan Bajo :D

      Delete
  11. Wah akhirnya jadi juga beli kapal sendiri.. selamat ham... semoga makin lancar sailing tripnya...

    akhir tahun ini mau trip ke sulawesi, harus banget nih ninggalin jejak kaki di tebing appalarang..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinnnnn! Doakan ya:D

      Wajib banget sih ke Apparalang bang!

      Delete

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search