Feb 6, 2018

Liburan Anti-mainstream di Danau Toba (Silimalombu Village) #ExposeSumatera Eps.9

Silimalombu Village
Silimalombu Village

Setelah perjalanan panjang yang kurang lebih 2 hari 1 malam dari Lhoknga, akhirnya kami sampai di daerah Danau Toba. Tapi kali ini, kami akan berwisata antimainstream dengan mencoba tinggal di pedalaman salah satu daerah di Pulau Samosir dan tinggal disana selama 3 hari. Tapi sebelum menuju ke Samosir kami berencana untuk singgah di beberapa tempat dulu seperti Berastagi dan Air Terjun Sipiso-piso.

Karena kami datang dari arah Tapak Tuan kami harus kembali ke arah Medan untuk sampai di Berastagi, memang agak memutar sih tapi kami niat kesana karena ada pemandian air panas dan kami bisa relaxing dulu sebentar disana. Jadi ada persimpangan di sekitar daerah Saribudolok, kalo dari daerah Tapak Tuan untuk menuju Berastagi kita harus ambil jalan yang lurus, sedangkan untuk menuju dermaga penyebrangan Samosir nanti kita belok yang ke kanannya.

Dari persimpangan tadi ke arah Berastagi sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karean hambatan macet sedikit kami sampai di Berastagi sekitar 2 jam perjalanan. Destinasi pertama kita adalah Pemandian Air Panas Sibanyak.

Pemandian Air Panas Sibanyak
Pemandian Air Panas Sibanyak
Nikmat mana lagi yang kau dustakan, baru sampai pagi hari udaranya lagi seger-segernya lanjut berendem air panas dengan view yang cantik di sekitarnya aaahhhh, ditambah lagi dengan kopi panas yang bikin mata melek, nikmat sekali. Sebenarnya pemandian air panas ini banyak lokasinya tidak hanya satu, dari bawah hingga ke atas daerah Pertamina itu banyak sekali tempat pemandian air panas berjejer dengan fasilitas dan harga yang berbeda, tingaal kita pilih aja yang sesuai keinginan dan juga budgetnya.

Kalau tidak salah harga per orang sekitar Rp 30.000 dan tidak ada biaya parkir untuk mobil. Airnya kalau kataku air pemandian air panas terpanas yang pernah kucoba! Sering banget berendem di daerah Ciwidey dan Lembang di Bandung tapi airnya gak sepanas ini. Terlihat dari airnya pun benar-benar natural belerang! bahkan sampai sekarang pun celana yang kupakai masih bau belerang padahal udah dicuci beberapa kali. Nice!

Gunung Sibayak
Pemandian air panas ini juga punya background Gunung Sibayak, keren kan!
Selepas berendam air panas dan mandi, kami pun bersiap-siap untuk berangkat menuju Taman Alam Lumbini. Awalnya bener-bener gak pernah searching apa yang ada di tempat itu, tapi pas sampai kok malah Buddhist Temple? Tak kirain itu taman alam kaya Cibodas atau apaaaa, tapi pas liat templenya sumpah ini bagus banget. Mirip kaya di Thailand gituuuu.

Buddhist Temple di Taman Alam Lumbini
Buddhist Temple di Taman Alam Lumbini
Memang di komplek ini terdapat taman di sekitarannya yang cukup bersih dan tertata. Banyak juga macam-macam tumbuhan dan juga pernak-pernik yang terlihat seperti di Thailand bukan di Indonesia. Masih heran dan penasaran, kenapa bisa ada buddist temple sebesar ini di daerah Berastagi, apakah banyak yang beragama Buddha atau gimana masih belum tau. Tapi yang jelas, temple ini menandakan bahwa Indonesia benar-benar memiliki keberagaman yang banyak sekali, jadi kalo masih bilang Indonesia itu milik 1 suku/agama/ras, you're fuckin stupid!

Setelah selesai berkeliling di komplek Taman Alam Lumbini, kami langsung kembali ke jalur yang sebenarnya #halah. Kembali menuju pertigaan tadi dan langsung ambil arah menuju Dermaga di Parapat. Tapi kami tidak langsung ke Parapat karena kami mampir dulu di Air Terjun Sipiso-Piso. Letaknya tidak jauh dari jalan raya, hanya sekitar 3 kilometeran sudah sampai di parkiran dan langsung terlihat air terjunnya.

Air Terjun Sipiso-Piso
Air Terjun Sipiso-Piso
Biaya masuknya relatif murah dan terlihat wisata ini agak tertata dibanding wisata hits lainnya. Memang air terjun ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah, tidak aneh sih karena air terjun ini salah satu icon di daerah Toba juga karena merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Air terjun ini juga dari parkiran sebenarnya sudah terlihat jelas banget, tapi kalo mau dapet foto kaya di atas harus jalan kaki dulu menuruni tangga ke bawah.

Sekitar ratusan anak tangga harus kita lalui untuk menuju spot foto itu, malah kalo mau ke bawah lagi berarti 3 kali lipat lebih jauh dibanding yang kami lakukan. Segitu aja udah ngos-ngosan sumpah :)) entah efek umur atau gimana malu sama cewek-cewek handal pendaki gunung mereka seperti biasa aja :))

Selesai dari Air Terjun Sipiso-piso kami langsung menuju Parapat yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari air terjun ini. Harusnya sih 60 kilometer itu bisa dicapai sekitar 2 jam tapi karena jalanannya berbelok-belok jadi kecepatan mobil tidak bisa maksimal. Ditambah, sepanjang perjalanan itu viewnya bagus-bagus jadi kami sering berhenti dan mengambil gambar sebanyak mungkin.

Pemandangan Danau Toba dari pinggir jalan <3
Pemandangan Danau Toba dari pinggir jalan <3
4 jam perjalanan kami lalui, akhirnya kami sampai di Parapat dan mobil langsung antri untuk masuk ke kapal penyebrangan menuju Pulau Samosir. Karena kami telat 5 menit dan kapal sudah berangkat, alhasil kami harus menunggu sekitar 2 jam di dermaga. Tapi saya malah senang karena bisa mengambil gambar sunset yang luar biasa indahnya dari dermaga di Parapat itu.

Harga kapal penyebrangan dari Parapat ke Samosir kalo per orang itu sekitar Rp 15.000 rupiah, cukup murah yaaaa. Memang perjalanannya tidak terlalu lama hanya sekitar 30 menit.

sunset di dermaga Parapat
Sunset di Dermaga Parapat <3
Dermaga di Parapat
Dermaga di Parapat
Sampai di Samosir kami langsung menuju Silimalombu Village yang terletak lumayan jauh dari pusat keramaian di Samosir. Kami harus melalui pesisir-pesisir pulau Samosir sekitar 1 jam perjalanan dengan jalan yang agak rusak. Bahkan di perjalanan saat mau sampai di tempatnya, jalanan berubah menjadi lumpur karena hujan deras pada siang harinya. Alhasil, mobil kami pun terperangkap di lumpur dan kami semua berjibaku untuk mengangkat mobil itu agar terbebas dari lumpur itu. Hampir 2 jam kami berusaha untuk melepaskan mobil dari lumpur, tangan, baju dan celana udah gak karuan pokoknya dipenuhi oleh lumpur.

Tapi untungnya, ada beberapa orang yang lewat dan membantu kami. Padahal saat itu kalo tidak salah sekitar jam 12 malam. Akhirnya setelah berjuang selama 2 jam, mobil bisa lepas dan kami melanjutkan perjalanan ke Silimalombu Village.

Silimalombu Village
Sampe-sampe langsung disuguhi makanan <3
Sampai di Silimalombu, kami pun langsung beres-beres dan bersih-bersih karena semua badan dipenuhi oleh lumpur. Subhanallahnya, kami ternyata sudah disediakan makanan oleh Ibu Ratna, pemilik dari penginapan Silimalombo Ecovillage ini. Kami disediakan makanan pizza, ikan, dan makanan lainnya. Karena memang capek dan kelaparan, makanan pun semuanya ludes habis dalam beberapa menit saja. Oiya, semua makanan yang dibuat di Silimalombu Ecovillage ini bahan bakunya bersumber dari ladangnya milik Ibu Ratna dan dari alam sekitar.

Misalkan lobster, Ibu Ratna ini mengambil lobster langsung dari danau yang lokasinya ada di depan dan juga buah-buahan dan sayuran yang ia tanam di kebunnya. FYI, kebunnya memiliki luas 2 hektar bahkan sampai ke puncak gunung katanya! Kebun ini sudah dikelola oleh keluarga Ibu Ratna dari nenekny neneknye nenek sejak 200 tahun lalu, busyeeettt keren! Makannya tidak heran di kebunnya banyak pohon mangga yang besar banget yang berumur ratusan tahun. Saat keesokan harinya pun kami diundang oleh beliau untuk meilhat "kebunnya".

Silimalombu Village
Ibu Ratna lagi ajak kami keliling "kebunnya"
Silimalombu Village
"kebunnya" Ibu Ratna
Saking luasnya kebun itu, ksaya sampai kecapean muterin kebunnya. Memang banyak sekali jenis-jenis tumbuhan dan tanamannya, sampai tidak terhitung. Tapi memang yang paling banyak adalah pohon mangganya. Yang spesial dari pohon mangga ini adalah mangganya ini diproses menjadi wine oleh Ibu Ratna and that is super awesome delicious wine i ever tasted! Belum pernah denger ada wine yang diproses dari mangga, dan saya pikir ini wine mangga pertama di dunia deh, sayangnya Ibu Ratna ini memang gamau terlalu membisniskan wine ini padahal banyak sekali tawaran dari seluruh dunia untuk menjual winennya itu.

Bahkan sebelum meninggalkan Silimalombu ini, kami beli 2 dirijen wine untuk perjalanan selanjutnya :)) rasanya manis tapi bitter dan paitnya pun kerasa, ditambah rasa mangganya yang masih tercicipi di lidah itu sesuatu bangetttt. Ibu Ratna ini dibantu oleh suaminya yang berasal dari Jerman untuk mengelola wine ini, prosesnya pun semuanya manual, tanpa alat modern sama sekali!

Mango wine Silimalombu
Mango wine Silimalombu
Selain bahan baku makanannya, ternyata Silimalombu Village pun mempunyai ruangan-ruangan yang mana pencahayaan dan listriknya bersumber dari cahaya matahari! semua tenaga listriknya dikumpulkan menggunakan solar panel, jadi seluruh isinya memang tanpa alat-alat modern seperti di kota. Boro-boro ada wi-fi, sinyal aja disini gak ada berohhhh, 3 hari disana tanpa sinyal. Tapi ternyata relaxing juga kok.

Yang bikin tercengang lagi adalah ternyata Ibu Ratna ini dulunya adalah pegawai kantoran di Jakarta dan dia memutuskan untuk resign dari kerjaan dan kembali ke kampung halamannya untuk mengelola kebun peninggalan keluarganya dan juga membuat Silimalombu Ecovillage ini. Bahkan Ibu Ratna ini sering diundang ke luar negeri sampai ke Eropa karena semua apa yang sudah dilakukannya sekarang, so inspiring!

Silimalombu Village
Kegiatan sehari-hari, berbincang pinggir danau :)


Pemandangan dari Silimalombu Village
Pemandangan dari Silimalombu Village
Kegiatan yang bisa dilakukan di Silimalombu Village ini selain ngobrol dan nyantai di rooftop. Kita bisa berenang di danau toba itu atau memancing di danau. Saat disana, saya mencoba untuk berenang ke danau dan ternyata baru jalan sekitar 5 meter kedalamannya langsung dalem banget! Selagi berenang pun, Ibu Ratna memancing lobster di danau, kelihatannya gampang banget, baru dimasukan 5 menit, ibu sudah angkat lagi dan kadang dapet 2 lobster sekaligus. Lobster itu pun dimasak langsung untuk makan malam terakhir di Silima Lombu Village.

Tempat ini menjadi tempat yang mengasyikan untuk orang yang mencari ketenangan dan kebebasan karena selama tinggal disana, kita tidak bisa nonton TV karena gak ada TV, tidak ada sinyal dan bahkan makanan ala-ala kaya KFC atau apapun tidak ada, karena bahan bakunya semua berasal dari alam.

Mimpiku nanti, semoga punya Ecovillage seperti ini di suatu daerah di Indonesia.. Doakan ya teman-teman!

⏩ Follow Instagram @irhamfaridh to explore #AkangBolang journey! ⏪

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search