Feb 7, 2018

Explore Tanah Minang di Payakumbuh dan Bukit Tinggi #ExposeSumatera Eps.10

Lembah Harau
Lembah Harau

Ahhhhhh, akhirnya kita sampai di episode terakhir #ExposeSumatera kali ini. Tidak terasa sudah hampir 1 bulan di perjalanan, tapi ga ingin pulang juga karena udah terbiasa hidup seperti ini. Memang perjalanan teman yang lainnya masih panjang karena harus melewati Kerinci, Bengkulu dan lewat Lampung lagi. Tapi karena ada beberapa urusan dan kepentingan di Bandung yang tidak bisa dilewatkan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan harus berpisah dengan teman-teman yang lain.

Kembali ke perjalanan, setelah kami mengexplore Danau Toba, kami menuju ke Payakumbuh yang berjarak kurang lebih 8 jam perjalanan. Di perjalanan kami juga mengantar 3 orang peserta yang pulang terlebih dahulu termasuk Langit yang kemarin sempat sakit di Aceh ke Bandara Silangit. Pas banget, baru beberapa hari kemarin Bapak Presiden Jokowi baru saja meresmikan bandara tersebut, jadi bandaranya terlihat masih sangat baru dan sangat rapih. Bentuk-bentuknya seperti Bandara di Labuan Bajo.

Di tengah-tengah perjalanan, kami mampir di titik 0 garis khatulistiwa di daerah yang sudah masuk daerah Sumatera Barat. Disini kami mengambil foto sembari istirahat karena kami melakukan perjalanan malam hari yang tentunya itu lumayan melelahkan.

Titik garis khatulistiwa!
Titik garis khatulistiwa!
Selain istirahat dan ambil foto, disini juga saya pakai untuk buang hajat, kapan lagi beol di garis equator, keren kan?! Disini juga terdapat museum yang saat kami disana ternyata masih tutup jadi belum bisa masuk. Museum itu bernama museum Tuanku Imam Bonjol yang merupakan pahlawan nasional pada zaman penjajahan Belanda.

Selesai istirahat di garis equator kita melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh. Masuk ke daerah Sumatera Barat kami tidak menemukan satupun Indomaret ataupun Alfamart yang merupakan MALL kami sepanjang perjalanan di Sumatera ini, ternyata memang di sumbar ini tidak ada Indomaret ataupun Alfamart jadi banyaknya kios atau toko warga lokal setempat saja. Bagus sih, lebih mempertahankan produk lokal.

Sampai di Payakumbuh kami langsung menuju ke Lembah Harau, tempat dimana kami akan menginap malam itu. Disini kami rencananya mau camping, tapi karena alesan tertentu, saya lebih memilih tidur di homestay, padahal udah excited banget mau camping sih ckckck... Di Lembah Harau ini kami hanya menginap semalam karena besok paginya kami harus berangkat ke Bukit Tinggi. 

Jadi sore itu kami habiskan waktunya untuk mengexplore beberapa spot di Lembah Harau. Untuk explore keliling kami pinjem motor warlok sekitar dengan bayar isiin bensinnya aja :D Spot yang pertama kita sanggahi yaitu Echo point, dimana saat kita teriak, akan ada suara yang sama dan berulang-ulang dan semakin jauh. Saat kami coba ternyata benar lohhhh, suaranya terdengar seperti mengaung di sekitar.

Echo Point
Erly lagi coba teriak di Echo Point
Setelah itu kami langsung menuju kedepan lagi untuk mencari beberapa spot cantik yang ada di Lembah Harau. Tidak jauh dari Echo point ada viewpoint yang ada tulisan Harau Valley, but its too mainstream makannya kami mencari spot lain lagi yang lebih keren dan lebih natural, soalnya saya orangnya males banget foto yang ada tulisan atau pernak-perniknya.

Ternyata setelah naik motor sekitar 10 menit kedepan kami dapat spot di tengah-tengah sawah yang langsung menghadap ke tebing-tebing yang ada di belakangnya, cakep banget pokoknya viewnya!

Lembah Harau
Cakep kaaannn?
Karena hari mulai gelap akhirnya kami kembali ke tempat semula dan beristirahat dengan tenang untuk trip keesokan harinya. Tapi karena ada 1 spot yang belum kami explore saat itu, akhirnya kami treking dulu ke salah satu air terjun di Harau yang lokasinya agak ke dalam. Dengar-dengar sih air terjun di Harau ini banyak banget. Yang bikin bingung, airnya muncul darimana yaaaa? katanya sih dari tumbuhan-tumbuhan yang ada di atas tebing, tapi kok bisa sederes itu ya? Subhanallah....

Untuk mencapai air terjun ini yang namanya lupa, kami harus treking selama setengah jam menembuh sungai dan hutan belantara dan mencapai air terjun yang terlihat masih alami banget. Airnya pun jernih banget. Ditambah cahaya matahari menyinari air terjun itu dan membuat air terjunnya terlihat lebih cantik. Suka banget sama air terjunnya, kalo bawa baju ganti sih pingin berenang, tapi karena udah kadung mandi jadi mengurungkan niat untuk berenang.

air terjun lembah harau
Air terjun yang namanya lupa dan lupa dicatat
Selesai dari air terjun, kami kembali ke parkiran dan langsung menuju ke Payakumbuh, Eeeeehh tapi ada 1 spot lagi yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Kelok Sembilan. Kelok Sembilan ini merupakan icon dari Payakumbuh dan merupakan tempat wisata juga. Banyak pedagang dan wisatawan di tempat ini, tapi tidak heran sih sebanyak itu karena memang keren banget pemandangannya.

Kelok Sembilan di Payakumbuh
Kelok Sembilan di Payakumbuh
Hanya lewat sebentar ke Kelok Sembilan, kami pun balik arah menuju Bukit Tinggi untuk stay disana selama 3 hari untuk explore Bukit Tinggi sekitarnya. Disini banyak banget kuliner yang enak dan wisatanya juga kece-kece. Selama di Bukit Tinggi kami stay di rumahnya Bang Andre salah satu teman dari tim kami yang punya rumah di sekitaran Bukit Tinggi. Diluar ekspektasi saya, ternyata Bukit Tinggi itu dingin yaaaa, bahkan lebih dingin Bukit Tinggi dibanding Bandung, bayanganku awalnya Bukit Tinggi itu panas.

Saat malam hari tiba, kami menyempatkan diri main ke Jam Gadang yang berlokasi di tengah alun-alun Bukit Tinggi ini. Banyak banget anak muda yang nongkrong disini dan wisatawan yang mengambil foto Jam Gadang tersebut. Mungkin kalo di Bandung ini alun-alun Bandung yang deket Asia Afrika itu kali yaaaa.

Jam Gadang
Jam Gadang
Ternyata Jam Gadang itu memang lebih bagus malam hari karena ada lampu-lampunya yang menyinari semua permukaan jam. Keesokan harinya kami balik lagi kedaerah sini untuk membeli beberapa peralatan dan juga baju-baju bekas, padahal juga ga ada yang beli cuman liat-liat aja hahaha.

Di hari kedua kami mengunjungi nama yang bernama Istano Basa Pagaruyung. Tempat ini merupakan istananya kerajaan Minangkabau, dimana dulu ada raja dan keluarganya yang menempati istina tersebut. Memang kalo dilihat dari sejarahnya, orang Minang itu muncul dari sekitaran daerah Payakumbuh dan juga Bukit Tinggi, tapi karena berkembangnya zaman semakin meluas bahkan hingga ke Malaysia dan Brunei.

Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung
Interior istana
Istana ini pernah terbakar kalau tidak salah pada tahun 2011 dan membuat sedih semua warga Minang, tetapi akhirnya istana ini direkondisikan lagi bahkan menjadi lebih bagus walau sudah tida asli seperti sebelumnya. Disini juga kita bisa menyewa baju adat Minang untuk berpose di depan istana ataupun di dalam dan di seluruh komplek istana, bebaskeunnn.

Selesai dari istana, kami langsung lanjut menuju Bukit Tinggi Great Wall, hah? great wall? kaya di cina cina gitu? yes betul! Ternyata Bukit Tinggi punya great wall seperti di China. Bentuknya pun hampir mirip dan yang luar biasa adalah kemiringan anak tangganya yang cukup membuatku ngos-ngosan.

Bukit Tinggi Great Wall
Bukit Tinggi Great Wall
Memang tidak sepanjang Great Wall beneran, tapi great wall ini bisa menjadi icon yang harus didatangi apabila wisatawan mengunjungi Bukit Tinggi layaknya Jam Gadang yang ada di alun-alun kota. Great Wall ini berujung di salah satu bukit yang mana di atas itu kita bisa melihat pemandangan Ngarai Sianok, yaitu lembah yang letaknya tidak jauh dari Bukit Tinggi, pemandangan dari atas oke sih, ada tebing dan sungai menjadi pemandangannya. Di puncak bukit ini banyak monyet berkeliaran, harap hati-hati buat yang bawa peralatan terutama kamera, karena terlihat monyet ii juga agak agresif.

Ngarai Sianok
Ngarai Sianok
Untuk yang lupa bawa minum juga sebenarnya gausah takut, karena banyak kios di puncak ini yang jual makanan ataupun minuman walaupun harganya memang lebih mahal, taoi wajar sih bayangin aja si ibunya naik tangga ini setiap hari gitu? sehat banget si ibuuuu. Setelah turun ke bawah kembali, akhirnya kami kembali ke rumah Bang Andre dan sebelumnya menikmati makanan khas dari Bukit Tinggi yaitu Bika Talago yang punya tempat dengan background yang lumayan kece dan rasanya enak sekaliiiii, apalagi ditemani oleh secangkir kopi hitam, juara!

Bika Talago
Bika Talago
bika talago
Pembuatan Bikanya menggunakan api
Setelah perut terisi kami pun kembali ke rumah dan beristirahat dan tidak sadar bahwa malam ini menjadi malam terakhirku untuk #ExposeSumatera, sedih sih ninggalin banyak kenangan dan pengalaman yang berharga selama perjalanan 30 hari kemarin. But life must go on bro! Keesokan harinya kami bertolak menuju Kota Padang dan melewati danau yang terkenal di Padang yaitu Danau Maninjau. Tidak banyak yang dilakukan di danau itu selain makan sambil menikmati danau, tapi beberapa kawanku ada yang nyemplung ke air untuk rafting, saya sih cukup ngeliat aja hehe

Danau Maninjau
Danau Maninjau
Dari Maninjau ke Padang tidak terlalu jauh karena hanya sekitar 1-2 jam perjalanan, dan kami pun sampai di Kota Padang dan tinggal di hotel berbintang untuk staycation manjhaaaaa sebelum pulang ke Bandung dan tim yang lain untuk melanjutkan perjalanan.

Such a wonderful stories and experiences i got from this trip. Kisah #ExposeSumatera ini akan saya rangkum dalam 1 artikel, sehingga kalian bisa baca semua ceritaku selama perjalanan 30 hari di Sumatera ini. 

See you in another trip!


⏩ Follow Instagram @irhamfaridh to explore #AkangBolang journey! ⏪

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search