Jan 28, 2018

Takengon, The Gayo Highland! #ExposeSumatera Eps.6

Kopi Gayo yang terkenal
Kopi Gayo yang terkenal
Expose Sumatera Eps. 5: Mandiin Gajah di Tangkahan Ecotourism

Setelah 2 hari di Tangkahan dengan cerita yang seru, kali ini saya akan cerita tentang bagaimana keseruan trip kita di Takengon. Jadi, setelah dari Tangkahan, kita langsung tancap gas menuju Takengon yang jaraknya ratusan kilometer sekitar 7-8 jam perjalanan dengan jalanan yang lumayan mulus. Karena kita keluar dari Tangkahan agak sore, kita sengaja untuk menepi dulu di salah satu tempat makan untuk beristirahat sambil menunggu jam 11 malam agar sampai di Takengon saat pagi hari.

Tantangan terberat itu saat nyetir di malam hari karena harus melawan rasa kantuk. Apalagi perjalanan dari Tangkahan menuju Takengon itu jalanannya lurus terussss. Pernah saat jam 3 subuh, posisi saya lagi nyetir dan semua sedang tertidur, mataku sempet tertidur, dan mobil oleng sedikit ke pinggir jalan. Tapi selesai kejadian itu, ada Teh Inoy yang nemenin nyetir dan kita ngobrol selama perjalanan, walaupun obrolannya sih gak berfaedah.... :))

Setelah 7 jam perjalanan, akhirnya ku menyerah karena udah bener-bener gak tahan untuk menyetir lagi dan akhirnya kita menepi di salah satu mesjid di daerah Lhoksemawe dan beristirahat disana. Tertidur pulas sekitar 2 jam, akhirnya kita berangkat lagi menuju Takengon yang sekitar 2 jam perjalanan lagi sampai. Oiya, karena sudah masuk daerah Aceh, pakaian kita berubah 100%, asalnya begajulan pakai celana pendek kaos terus yang cewe juga asalnya pakai miniset, sekarang pakai celana panjang, berkerudung dan bersarung, karena harus mengikuti dan menghormati aturan setempat.

Perjalanan menuju Takengon
Perjalanan menuju Takengon
Akhirnya setelah 14 hari di perjalanan dengan suhu yang panas luar biasa, terutama di Pekanbaru yang panasnya kayak matahari itu deket banget dengan kita, akhirnya kita main ke daerah dataran tinggi, uhuy! serasa balik kampung ke Bandung lagi. Cuacanya sejuk cenderung dingin, terus tumbuhannya hijau-hijau dan pemandangannya gunung-gunung. Saya, Teh Inoy dan Langit yang notabene tinggal di Bandung, merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena sebelumnya sering dihajar cuaca yang panas dan sebagai orang Bandung kadang gak tahan juga sama cuaca panas saking panasnya itu.

Saat jam 7 pagi, kita menepi di salah satu spot bernama Gunung Salak Aceh. Disini kita sarapan sambil ngopi-ngopi cantik sebelum sampai di Takengon. Spotnya lumayan asik sih, terlihat pemandangan sekitar yang banyak pohon pohon hijau dan gunung-gunung di sekitarnya. Fresh banget rasanya bisa lagi ngerasain dingin kaya gini.

Gunung Salak Aceh
Gunung Salak Aceh
Dari Gunung Salak Aceh menuju Takengon itu tinggal 1 jam lagi dengan jalanan yang ternyata cukup menanjak. Jalanan di Aceh ini mulus banget, jarang nemuin lubang-lubang seperti di Pulau Jawa. Bahkan pembatas jalannya aja selalu ada penanda yang warna kuning itu, jadi rasanya nyaman banget nyetir di Aceh. Selama perjalanan banyak lokasi-lokasi yang menarik seperti pegunungan dan jalanan yang berkabut. Setelah sampai di Takengon, kita langsung mencari penginapan yang langsung menghadap ke danau, yang memnag terletak di pinggiran Kota Takengon ini, pokoknya kece!

Kota Takengon
Sampai di Kota Takengon! Latar belakangnya ada danau dan bukit-bukit!
Takengon
Pusat perdagangan di Takengon
Sebelum mencari penginapan, kita muter-muter dulu di Takengon untuk membeli pakaian, karena mulai darisini kita harus menggunakan pakaian yang sopan, terutama yang cewe-cewe mereka harus menggunakan hijab. Di Takengon ini walaupun kotanya kecil banget, tapi saya lihat perekonomiannya cukup jalan, bahkan kalau diliat dari infrastrukturnya bagus banget hampir bisa menyaingi kota-kota besar di Pulau Jawa.

Untuk harga makanan dan pakaian relatif sama dengan di Pulau Jawa, yang membedakan itu hanya masalah style dan rasa untuk makanannya. Karena hari ini hari pertama di Aceh jadi kita masih beradaptasi dengan wilayah sekitar, tapi seletah berhari-hari di perjalanan, menurutku kehidupan di Takengon lah yang paling selow, mulai dari warganya yang selow dan cuacanya juga yang selow. Aaaahh 11-12 sama Bandung, bedanya Bandung udah metropolitan aja sekarang.

Danau Takengon
Danau Takengon
Danau Takengon
Danau Takengon
Setelah berkeliling di kotanya, kita mulai mencari penginapan yang rencananya ingin di pinggir danau. Karena di Takengon ini kita akan stay agak lama sekitar 2-3 malam untuk relaxing setelah perjalanan jauh dan menikmati alam di sekitar Takengon, jadi tempatnya harus yang benar-benar relaxing. Karena kita belum tau mau nginep dimana, akhirnya kita agak keluar kota dan menemukan spot cantik seperti gambar di atas!

Kita menyisir pinggiran danau karena berekspektasi dapet penginapan yang di pinggir danau, tapi ternyata makin kesana malah makin sepi. Tapi gak rugi karena dapet pemandangan yang cantik kayak gini. Takengon ini hampir mirip dengan Danau Toba, bedanya kalo Danau Toba luas banget, dan Takengon adalah versi kecilnya. Suasana yang agak keluar kota ini sendu-sendu gimana gituuu, ditambah ada angin sepoi-sepoi, rasanya ingin tidur sambil selimutan aja di kamar :D

Karena tidak menemukan penginapan, akhirnya kita kembali dan memutuskan untuk main dulu ke tempat pembuatan kopi khas sini, yaitu Kopi Gayo! Jadi, salah satu anggota dari tim kami, ada yang kenal dengan owner salah satu tempat produksi Kopi Gayo disini, nama produk kopinya Arias Coffee. Mereka sudah memproduksi untuk hapir seluruh wilayah Indonesia dan bahkan mancanegara!

Arias Coffee
Arias Coffee
Biji Kopi Gayo
Biji Kopi Gayo
Disana kita melihat bagaimana proses pembuatan kopi dari mulai biji kopi hingga di packing dalam bentuk bubuk. Kita juga diajari bagaimana mendapatkan biji kopi yang bagus dan cara mengolah yang benar. Disini juga kita merasakan hasil kopinya langsung! Walaupun bukan pecinta kopi, tapi suka banget sama rasanya yang citarasa kopinya kerasa banget, dan rasanya yang khas.

Lokasinya ada di sekitaran kota tapi agak kedalam pemukiman warga, agak susah juga pakai mobil, untuk masuk kedalamnya kita harus berjalan kaki, tapi gak terlalu jauh kok, bisa langsung cari di Gmaps, "aria coffee".

Karena ketemu dengan beberapa orang asli Takengon, kita menanyakan penginapan yang ada di pinggir danau yang kita cari tadi, dan ada orang yang tau lokasi yang pas untuk itu. Jadi, setelah puas di Aria Coffee, kita langsung menuju penginapan yang ditunjuk oleh orang tersebut. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kota, dan bener-bener di pinggir danau, dan pemandangannya seperti ini, dang!!!

penginapan pinggir danau Takengon
Sampai di penginapan!
Pemandangan sekitar penginapan
Pemandangan sekitar penginapan
Saat sampai di penginapan, bener-bener mulai jatuh cinta nih sama Takengon, pas banget lokasinya buat relaksasi sebelum memulai perjalanan jauh lagi keliling Sumatera. Nama penginapannya saya lupa, tapi yang pasti nama daerahnya kalau tidak salah Danau Lut Tawar. Lut ini ada 2 artinya kalau di Takengon yaitu berarti laut dan satunya lagi adalah nama suku di Takengon, jadi ada Suku Lut yang memang lokasinya tidak berjauhan dari penginapan yang kita tinggali. Untuk harganya termasuk murah banget menurutku karena hanya Rp 400.000 semalam dan bisa diisi hingga 5-7 orang dalam 1 rumah. Model penginapannya seperti cottage, sudah tersedia dapur, kamar mandi dan ruangan yang luas di dalamnya. Pokoknya nyaman banget!

Selama di penginapan juga ada ownernya dan beliau cukup terbuka dan selalu kasih kita makan dan kopi, lumayan daripada jajan diluar heheheeh. Di sekitar penginapan pun terdapat warung dan laundry untuk kebutuhan makan dan cuci cuci. Karena sudah 2 mingguan, stok di carrier pun hampir abis dan butuh laundry. Ada cerita unik disini, saat kita laundry dan terpaksa melaundry celana dalam juga karena sudah dalam keadaan urgent, setiap laundry yang ada celana dalamnya kena charge tambahan Rp 10.000 karena yang cuci orang tua :)) emang sih kurang sopan, maapin kita maaaaakk, urgent banget soalnya.

Selama tinggal 3 harian di Takengon, tidak terlalu banyak kegiatan yang kita lakukan karena memang fokus untuk relaksasi. Tapi walaupun tidak banyak aktifitas, kita tetap mengunjungi beberapa tempat, sayang banget ke Takengon tapi gak ngapa-ngapain kan! :D

Rafting di Sungai Peusangan


Sungai Peusangan di Takengon
Sungai Peusangan di Takengon
Rafting di Sungai Peusangan
Rafting di Sungai Peusangan
Ternyata selain punya danau yang kece, Takengon juga punya sungai yang kece! Ada namanya Sungai Peusangan yang baru baru ini dibuan menjadi wisata arung jeram bagi wisatawan. Memang sungainya tidak terlalu deras, tapi pemandangan sekitarnya luar biasaaaaa cantiknya, kaya lagi di New Zealand (kaya pernah aja ke New Zealand). Airnya dingin banget, secara karena berada di detaran tinggi, di luar aja dingin apalagi di airnya, wowwww.

Panjang sungai ini sekitar 2 kilometer dan ada beberapa titik yang jeramnya lumayan terasa. Wisata arung jeram ini cocok untuk keluarga yang sedang wisata di Takengon, tapi kalo yang udah pro sih kayanya tidur aja di perahunya. Tapi karena ini kedua kalinya saya arung jeram, iya aku mah apa atuh, segini aja udah asik menurutku :))

Wisata ini juga baru dibuka beberapa tahun, masih terhitung baru. Wisata ini juga didirikan oleh pegiat wisata dan olahraga rafting di sekitar Takengon, bahkan dibangunnya oleh salah satu pemain dan pelatih pro olahraga ini di Indonesia. Untuk harganya saya gak terlalu tau, karena kemarin dikasih gratis hehehe, tapi kalau tidak salah sekitar 100-150 ribu untuk satu orangnya.

Menikmati Sunrise di Pantan Terong


Sunrise di Pantan Terong
Sunrise di Pantan Terong
Di hari kedua, kita bangun subuh-subuh karena ingin hunting sunrise di salah satu bukit di Takengon. Tapi setelah searching di Google, ternyata ada beberapa spot untuk menikmati sunrise, tapi melihat dari gambar-gambarnya, kita memilih Pantan Terong. Kenapa Pantan Terong? Karena spotnya keren banget dan angle foto dari sini keren karena semua Kota Takengon, danau dan bukit-bukit sekitarnya terlihat darisini semua.

Kita berangkat jam 5 subuh dari penginapan dan sampai di puncak Pantan Terong ini sekitar jam setengah 6. Menunggu sekitar 30 menit sampai matahari muncul dan view di sekitar pun benar-benar berubah! Takjub banget sama pemandangannya, matahari yang mulai memancarkan sinarnya sambil diselimuti oleh kabut menyinari permukaan danau dan beberapa bagian bukit di sekitarnya. Dan selama perjalanan di Sumatera, tempat inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan Takengon. Someday i will be back for sure! <3

Festival Pacuan Kuda


Festival Pacuan Kuda Takengon
Festival Pacuan Kuda Takengon
Di hari terakhir, kebetulan kita sedang ada di Takengon dan ada festival tahunan yang selalu diselenggarakan disini yaitu Festival Pacuan Kuda. Lokasinya ada di pacuan kuda dekan sungai Peusangan tempat kita rafting sebelumnya. Sepertinya hampir setengah warga Takengon datang kesini karena terlihat sangat padat lokasinya. Semua orang berkumpul dan menikmati arena balapan kuda saat hari itu. Dan ada beberapa orang juga terlihat "masang" dengan beberapa teman lainnya :p

Kuda-kuda tersebut datang dari berbagai kota, termasuk Pulau Jawa, mereka ada yang datang dari Bandung, Jakarta dan Surabaya juga looohhh, kereeennn. Terus banyak juga jajanan yang tersedia disini, unikya, hampir 100% jajanan-jajanan di Bandung :)) ada Siomay, Batagor, Tahu bulat, tahu gejrot, waaah berasa di Bandung nih akuuuu.

Setelah selesai dari Pacuan Kuda kita kembali ke penginapan untuk siap-siap ke perjalanan selanjutnya, yaitu ke Banda Aceh dan Sabang ayeee!!!

Next Story: Explore Pulau Weh, Pulau Paling Barat di Indonesia

⏩ Follow Instagram @irhamfaridh to explore #AkangBolang journey! ⏪

8 comments:

  1. Masuk daftar destinasi impian ah😁

    ReplyDelete
  2. Hahahha dari yang pake miniset jadi pakaian full 😂 Pokokeeee Sukaaaaaaaaaakkkkkkk sama Takengon..!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha berubah seperti power ranger, 100% beda'e :)) Iyaaaa belum bisa move on nihhhh!!!

      Delete
  3. Sebenarnya aku nggak mau baca ini. gak sanggup baca kisah Akang di Takengon, liat kecantikan Aceh sana yang memanggil-manggil. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha sengaja sih ngeposting terus biar kak sulung melihatnya semua :))

      Delete
  4. Kang, itu serius naik avanza keliling sumatera?

    View gunung di belakang tempat pacuan kudanya bagus banget ya, macam bukit barisan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaak serius :)) alhasil badan pun pegal-pegal terus hahahaha seru sih tapi...

      Iyaaa takengon juara lah pokoknya!

      Delete

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search