Sep 26, 2016

Pengalaman Bekerja dan Berlibur di Australia Selama 1 Tahun (WHV)

perjalanan road trip
Foto di perjalanan roadtrip Darwin-Cairns!
Perjalanan panjang selama setahun di negeri kangguru, Australia merupakan pengalaman paling berharga sepanjang hidupku. Selain bekerja di berbagai bidang, tempat dan pekerjaan saya pun sering berkeliling dan travel ke beberapa tempat di Australia, bahkan saya sudah 3 kali melakukan roadtrip! wuhuuuu! Bagi yang belum tau apa itu WHV (Work and Holiday Visa) Australia, visa ini adalah visa yang memperbolehkan kita berlibur dan bekerja di Australia selama setahun! Untuk penjelasan lebih lanjut seperti persyaratan umum dan cara mendapatkan visanya bisa di cek artikel di bawah ini:


Setiap orang yang mengambil visa ini tujuannya berbeda-beda, ada yang memang cuman sekedar liburan dan cari pengalaman, ada yang mau belajar bahasa inggris, ada juga yang terus-terusan kerja sampe itu dompet susah dilipet :p Kalo untuk saya sendiri, karena memang baru lulus kuliah saya mengambil visa ini untuk cari pengalaman dan bekerja untuk cari modal bisnis sepulang ke tanah air nantinya. Selain itu juga saya bisa menjalankan hobi saya yaitu traveling dan punya cerita untuk diisi di blog ini. Oiya, saya tidak pergi sendiri, kebetulan saya pergi bersama kekasih hati, Lylis yang setia menemaniku dan masakin makanan setiap harinya :p

air terjun Florence di Litchfield
Work hard? Sometimes :P
Singkat cerita, kami memulai perjalanan di Australia di Brisbane, Queensland. Bukan karena disana banyak kerjaan, tapi penasaran kenapa gak banyak anak WHV yang kesana hahaha tapi karena memang sulit cari kerjaan disana jadi kami pindah ke Darwin, Northern Territory dan memulai karir sebagai petani disana. Dari kerjaan sebagai petani ini, saya mengetahui yang namanya Harvest Trail Australia dimana kita bisa keliling Australia dan bekerja di sektor farm sesuai musimnya. Dari situlah perjalanan kami keliling Australia dimulai.

mango farm australia
Dare to be a farmer?!
Kami mulai menjadi farmer di Darwin sebagai mango picker selama hampir 2 bulan. Pernah kerja di kota Darwin selama 2 minggu tapi gak betah dan gak dapet kerja-kerja akhirnya kami mendapat panggilan kerja sebagai mango packer di salah satu packing shed di Kota Katherine, 300 km dari Darwin. Kerja selama 3 minggu disana, musimnya beres kami mendapat info dari Harvest Trail kalo sehabis musim di Katherine ada musim mango juga di North Queensland. Disitulah first experience kami roadtrip sejauh 2000 km lebih dari Katehine, NT menuju Cairns (Mareeba), Queensland! 

Kerja 2 bulan di Mareeba, kami pindah menuju Corindi Beach, New South Wales dan roadtrip kedua kalinya sejauh 1500 km melewati Townsville, Brisbane, Gold Coasr, dan Byron Bay! Di Corindi Beach kami tinggal selama 2,5 bulan kerja sebagai raspberry picker, kerjaannya mudah dan gak cape tapi salarynya agak kurang tapi kehidupan disana rasanya yang paling saya suka di Australia. Habis season raspberry di Corindi, kami pindah menuju Renmark, South Australia dan road trip untuk ke tiga kalinya sejauh 2200 km! melewati Sydney, Melbourne, Canberra! Renmark ini menjadi destinasi terakhir kami di Australia sebelum pulang ke Indonesia, tinggal selama hampir 4 bulan dengan kerjaan sebagai citrus packer di salah satu packing shed terbesar di Australia. Untuk cerita lengkapnya, saya simpan artikel-artikel cerita saya di Australia selama setahun mulai dari start sampai pulang, berikut artikelnya:

G'day Australia - Cerita persiapan dan keberangkatan menuju Australia

Perjalanan Singkat di Brisbane Australia - Cerita pengalaman pertama menginjakan kaki di Brisbane, Australia dan sightseeing keliling Kota Brisbane

Darwin, Northern Territory -  Cerita pengalaman bekerja di Darwin dan sekitarnya serta info wisata yang dikunjungi di Darwin dan sekitarnya

When Adventure in Australia Started! - Cerita bagaimana dimulainya petualangan keliling Australia dan decide pindah ke Katherine dari Darwin

Katherine, Kota Sederhana Alam Luar Biasa! - Cerita pengalaman bekerja sebagai mango packer di packing shed Katherine dan info wisata alam di sekitar Katherine dan sekitarnya

Roadtrip Katherine (NT) - Mareeba (QLD) Australia - Cerita pengalaman roadtrip pertama di Australia dari Katherine, NT menuju Mareeba, Qld sejauh 2000 km selama 5 hari melewati berbagai tempat eksotis.

North Queensland, Feels Like Home! - Cerita pengalaman bekerja di Mareeba, Queensland dekat dengan kota wisata Cairns yang terkenal dengan Great Barrier Reefnya! 

Roadtrip North Queensland ke New South Wales (Corindi Beach) - Cerita pengalaman roadtrip yang kedua, dari Mareeba, Qld menuju Corindi, NSW sejauh kurang lebih 1500 km melewati kota-kota seperti Bundaberg, Brisbane, Gold Coast, dan Byron Bay!

Coffs Coast, Sleep Eat Work Beach Repeat! -  Pengalaman tinggal di pesisir pantai Corindi Beach dan bekerja sebagai raspberry picker selama 2,5 bulan

Roadtrip Sydney-Canberra-Melbourne- Renmark (SA)! - Pengalaman roadtrip yang ke tiga kalinya melewati kota-kota besar seperti Sydney, Canberra dan Melbourne menuju Renmark, South Australia untuk pekerjaan selanjutnya.

Thank You Renmark, Good Bye Australia! Bhay! - Pengalaman terakhir bekerja di Australia sebagai citrus packer dan cerita meninggalkan Australia ke Indonesia

Berikut artikel-artikel perjalanan kami selama di Australia, ada beberapa artikel terkait didalam artikel tersebut seperti artikel-artikel traveling kami menuju ke beberapa tempat di daerah sekitar tempat kami tinggal yang bisa dijadikan referensi untuk kamu yang senang traveling juga :)

Info Pekerjaan Selama di Australia

Workmate di Mareeba, Queensland!
Untuk menginspirasi teman-teman dan mengajak teman-teman biar cari kerjaan gak hanya harus di kota, saya kasih gambaran pekerjaan saya selama di Australia sebagai farmer. Selain pekerjaan yang berbeda-beda setiap harinya, saya banyak banget ketemu orang dari berbagai negara mulai dari Taiwan, Hongkong, Thailand, Jerman, Argentina, Francis dan masih banyak lagi. Mereka pun mengambil WHV untuk cari pengalaman ada yang dulunya dokter, ada yang dulunya udah jadi manajer, kerjaannya sama kaya saya di kebun hehehe selain kerja di kebun saya juga pernah kerja di kota selama beberapa minggu berikut penjelasannya:

Mango Picker
Mango Picker/Packer - Rata-rata kerjaannya ada di bulan Agustus - November di Northern Territory dan di bulan November - Februari di Northern Queensland. Kerjaannya rata-rata 8-12 jam per harinya dan gak ada hari libur! Rate gaji mango picker kalo cash in hand $16-18 dan kalo menggunakan tax $20-24 per jamnya. Tantangannya cuaca karena seharian bekerja harus bekerja outdoor dan kepanasan selama 10 jam setiap harinya dan berdiri. Hari pertama pasti rasanya kaya neraka tapi kesananya pasti terbiasa, ceweku aja bisa kok bertahan masa kalian gak bisa hehe Kalo kalian gak kuat kepanasan, kalian bisa apply ke packing shednya, kerjaannya cuman packing dan angkat-angkat box dan gak kepanasan tapi biasanya sulit untuk cari kerjaan packing karena packing shed yang ada terbatas gak seperti farm yang selalu membutuhkan orang,

Housekeeping
Housekeeping - Pernah bekerja sebegai housekeeping di Darwin selama 2 minggu. Kerjaannya cuman 2 kali seminggu. Rate gajinya $20/jam dan jam kerjanya 5-7 jam dalam sehari. Sebenarnya kalo mau lebih diseriusin lagi bisa dapet jam panjang dengan cari kerjaan lain. Tapi saya mah orangnya pemales, cari kerjaannya banyak banyak hehe

Raspberry Picker
Raspberry Picker - Kerja sebagai Raspberry Picker di Corindi Beach, New South Wales. Kerjaannya gak terlalu cape, karena cuma kerja 5-7 jam kerja. Gajinya kontrak, jadi semakin banyak buah yang didapat semakin besar gaji kita. Rata-rata orang Indonesai yang bekerja di Raspeberry bisa mendapatkan $120-175/ harinya dan tidak ada day off kecuali kita yang ambil day off sendiri! Untuk tips jadi picker raspbery mah ini ada masternya di cek aja blognya marlinoz.com dia picker tercepat di grup kami dulu dan dari orang Indonesia juga lohhhh.

Citrus Packer
Citrus Packer - Pekerjaan yang terakhir kami kerjakan yaitu citrus packer. Kerjaannya indoor dan gak terlalu cape. Yang bikin cape yaitu cuacanya yang sangat dingin karena lagi winter dan berdiri 10 jam dan kerjanya malem! Setiap minggunya at least bisa dapet 40-50 jam kerja. Rate gajinya kalo siang dapet $21,61/jam kalo malem dapet rate overtime $24.85/jam. 

Seperti itulah gambaran kerjaan-kerjaan yang kami jalani di Australia. Sebenarnya kalo di farm masih banyak lagi kerjaan seperti Cotton di Queensland, sayuran di Western Australia dan Tasmania dan masih banyak lagi untuk info lengkapnya bisa di cek di Harvest Trail Autralia.

Oiya, selama setahun kerja kan kita dipotong pajak, tapi semua pajak yang dipotong itu bisa dikembalikan lagi lohhh lumayan itung-itung THR. Artikelnya bisa dibaca disini:


Sebuah pengalaman yang sangat luar biasa bisa tinggal di Australia, negara yang maju dan gaji tertinggi di dunia. Tapi apakah selanjutnya saya mau tinggal di Australia? Sepertinya lebih cenderung ke tidak hehe karena.... saya lebih enjoy tinggal di kampung halaman dan berkarya untuk bangsa cielaaahhhh. Tapi gak menutup kemungkinan saya bakal traveling ke Australia lagi dan bawa keluargaku kesana karena masih juga banyak tempat yang belum dikunjungi, terutama Tasmania! See you again Australia!

See you again Australia! (Perry Sandhill Wentworth)

Irham Faridh Trisnadi (Tris)
I'm a backpacker who have a dream to have my own business and travel the world! 
Twitter       : @irhamfaridh
Instagram   : irhamfaridh
Facebook   : Irham Faridh
E-mail        : irham.faridh@gmail.com
Travel, Love & Be Happy!

Sep 25, 2016

Semua Bahagia Berqurban Lewat Global Qurban ACT

Pembagian daging qurban oleg Global Qurban (Sumber)
Mempunyai hobi traveling membuat saya sering mengunjungi ke berbagai tempat dengan keunikannya masing-masing. Mulai dari mengunjungi ke kota-kota besar dalam maupun luar negeri sampai ke pelosok desa di pedalaman yang masyarakatnya hidup seadanya. Dengan traveling, kita jadi tahu bagaimana perbedaan antara hidup di kota dan di desa, merasakan bagaimana perbedaan dari cara hidup, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. 

Tahun 2014 lalu, saya pernah berkunjung ke Lombok dalam rangka Backpacker ke Bali dan Lombok. Di Lombok saya tinggal beberapa hari dan mengunjungi beberapa tempat eksotis dan terkenal di Lombok mulai dari hingar bingar Gili Trawangan, kecantikan Pantai Senggigi, dan pantai-pantai cantik di Lombok Selatan dan Timur. Pernah, saat itu saya sedang menuju Pantai Cemara. Dengan gaya traveling ala backpacker saya lebih berinteraksi dengan warga lokal karena saya selalu menggunakan transportasi umum, sering berbicara dengan warga lokal dan juga bertanya-tanya mengenai kehidupan lokal disana seperti apa. Saat saya sampai di Pantai Cemara, saya takjub karena keindahan pantai dan lautnya yang luar biasa cantiknya.

Pantai Cemara, Lombok
Pantai Cemara, Lombok
Namun, baru sadar saya melihat di daerah pantai tersebut tidak ada bangunan-bangunan seperti hotel ataupun tempat makan seperti pantai-pantai lainnya. Disitu saya hanya melihat 3 buah gubuk dan 3 orang bapak yang sedang mengurus kerbau-kerbaunya, padahal pantai ini termasuk pantai yang lumayan terkenal di Lombok tetapi ekonomi masyarakat sekitarnya masih tertinggal. Bahkan sangat tertinggal karena untuk kebutuhan sandangpun terlihat masih sulit apalagi untuk kebutuhan pangannya. Pas sekali dengan momen Idul Adha, mungkin inilah fungsi dan manfaat yang diberikan dari momen Idul Adha, dengan adanya momen tersebut orang lain yang kondisinya seperti bapak ini bisa terbantu dengan diberikannya daging qurban. Tapi, masalahnya memang ada yang memberikan daging qurban sampai pelosok seperti ini?

Kabar baiknya, ada! Salah satu foundation bernama ACT (Aksi Cepat Tanggap) membuat sebuah program bernama Global Qurban. Global Qurban ini sudah berjalan sekitar 5 tahun sampai tulisan ini dibuat dan sudah mendistribusikan daging qurban ke 27 negara dan mendistribusikannya ke lokasi-lokasi bencana, lokasi rawan pangan dan lokasi yang rawan konflik kemanusiaan. Salah satunya tahun 2016 ini Global Qurban mendistribusikannya ke daerah pelosok Indonesia sebelah timur antara lain Sumbawa-NTB, Buru-Maluku dan NTT. Harapannya semoga kedepannya ACT bisa memperluas pendistribusiannya ke banyak pelosok di Indonesia salah satunya lokasi si bapak di Pantai Cemara dan lokasi lainnya agar dapat membantu warga lain di pelosok sana yang membutuhkan.

Global Qurban (Sumber)
Slogan yang dimiliki Global Qurban adalah "Semua Bahagia Berqurban". Kenapa semua bahagia? karena program ini memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk semuanya, mulai dari orang yang berqurban, peternak hewan qurban, penerima daging qurban serta korporat-korporat lainnya yang terhubung dengan program ini. Ditambah lagi, hewan-hewan qurban yang diambil yaitu dari peternak-peternak yang dibina oleh Global Qurban sendiri. Ada beberapa LTM (Lumbung Ternak Masyarakat) di beberapa daerah di Indonesia seperti Blora, Yogyakarta, Bojonegoro, Tasikmalaya dan Nusa Tenggara Barat yang artinya program ini pun membantu peternak dalam mengembangkan bisnisnya dan berkontribusi memperbaiki sistem bisnis peternakan di Indonesia.

Salah satu peternak LTM Global Qurban (Sumber)
Dengan adanya Global Qurban ini juga, kita sebagai orang Muslim yang sangat dianjurkan untuk berqurban akan sangat dimudahkan. Karena untuk beribadah kita tidak harus survey dan mencari hewan qurban secara mandiri seperti apa yang sering kita lakukan setiap tahunnya dan itu memerlukan effort yang banyak serta waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dengan adanya Global Qurban, kita bisa membayarkan biaya untuk qurban secara online di www.globalqurban.com atau bisa membayarnya di gerai-gerai dan supermarket seperti Transmart, Hero. Giant, Superindo, Alfamidi dan lainnya. Untuk kepercayaan kualitas hewan qurban tidak perlu kuatir karena semua hewan qurban sudah diurus secara profesional oleh peternak.

Selain memudahkan juga Global Qurban memiliki harga yang murah dan tidak fluktuatif mengikuti harga pasar. Dengan manajemen stok yang profesinal, harga hewan qurban di Global Qurban tidak akan fluktuatif dan bisa lebih hemat apabila pemesanan qurban diawal waktu melalui program Qurban Progresif. Berikut daftar harga yang dipasang Global Qurban untuk tahun 2016 ini:

Harga Hewan Qurban 2016 (Sumber)
Sinergi program qurban online, qurban progresif, dan lumbung ternak masyarakat memberikan nilai ibadah dan benefit lebih bagi pequrban. Selain ibadah qurbannya lebih terencana, pequrban juga turut memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat peternak yang membutuhkan. Untuk tahun depan jangan lewatkan berqurban melalui Global Qurban ini agar ibadah qurban lebih hemat dan mudah dan memberikan kebahagiaan untuk semua.

Untuk informasi lebih lengkap tentang Global Qurban, bisa hubungi:
Website  : www.globalqurban.com
Twitter   : @GlobalQurban
SMS       : 0853 3000 6000

Irham Faridh Trisnadi (Tris)
I'm a backpacker who have a dream to have my own business and travel the world! 
Twitter       : @irhamfaridh
Instagram   : irhamfaridh
Facebook   : Irham Faridh
E-mail        : irham.faridh@gmail.com
Travel, Love & Be Happy!

Sep 22, 2016

Solo Backpacking ke Flores (Labuan Bajo dan Komodo) dalam 10 Hari

Best view from Padar Island (Komodo, Flores)
Best view from Padar Island (Komodo, Flores)
Baru saja sampai di Indonesia dalam 3 jam setelah perjalanan panjang di Australia selama setahun dalam rangka Work and Holiday Australia, terlintas di fikiran mimpi yang daridulu belum terlaksana, yaitu menjelajah tanah Flores! Tanpa pikir panjang, saya langsung buat ittenerary pada hari pertama saya datang di Indonesia!. Oiya, ini jadi pengalaman solo backpacking saya loh :D Rencananya saya akan "ngeteng" ala backpacker dari Bandung menuju Labuan Bajo, Flores. Namun setelah googling ternyata kalo dari Bandung memang memakan waktu yang lumayan lama. Jadi saya beli tiket penerbangan dari Bandung ke Bali dan mulai "ngeteng" dari Bali ke Labuan Bajo, Flores. Dengan memotong waktu yang lumayan banyak, saya bisa singgah di Bali dan Lombok untuk mengunjungi beberapa tempat wisata lainnya. Lagian udah pernah ngerasain ngeteng Bandung-Bali beberapa tahun lalu (disini ceritanya). <- lengkap dengan informasi rute backpacking dan budgetnya.

Let's gow! (Peralatan yang saya bawa selama trip)

Day 1 Bali (Check-in Hostel & Chill out)

Sampai di Bali, saya tinggal di hostel daerah Poppies Lane, yang terkenal dengan penginapan yang murah-murah. Di hostel yang bernama Kuta Beach Hostel, saya hanya membayar Rp 60.000/malam dengan kasur dorm dan AC, nyaman banget untuk hanya sekedar beristirahat. Tapi di malam pertama saya gagal beristirahat karena teman sekamar hostel yang berasal dari Jerman, Argentina dan Prancis mengajak makan malam bareng diluar dan setelahnya ngajak minum pinggir pantai dan ngobrol gak ada habisnya sampai jam 2 malam. Ngobrol ngalor ngidul mulai dari politik, agama, kehidupan dan pengalaman hidup kita masing-masing. Btw, Samra yang dari Prancis ini dia Muslim dan gak pernah minum sama sekali walaupun sering party katanya, kerennn.

Ini Samra (Francis) dan Mario (Argentina)

Day 2 Bali (Kanto Lampo, Gianyar)

Keesokan harinya, saya berencana menuju Nusa Lembongan Ceningan dan harus maksimal berada di Sanur jam 9 pagi karena itu jadwal kapal terakhir dari Sanur ke Lembongan, setelahnya ada jam 12 siang tapi rencana mau bulak balik, masa jam 3 udah balik lagi kan gak lucu. Pagi harinya beneran saya telat bangun jam 8.45, dengan otak selengean yang walaupun emang udah gak mungkin, saya tetap berangkat menuju Sanur dengan mindset "masih bisa" :)) Di perjalanan sambil ngebut sambil nyebut "masih bisa, masih bisa, masih bisa", sampai di Sanur jam 11! Cerdas! :)) Karena udah kesiangan, saya akhirnya membatalkan rencana ke Nusa Lembongan Ceningan, mungkin belum jodoh, next time harus kesana! Karena masih jam 11 siang, masih banyak waktu yang bisa dipakai untuk berkunjung ke tempat lainnya, karena bingung hampir semua wisata yang populer di Bali udah pernah, saya searching di Google dan dapat info mengenai air terjun cantik di wilayah Bali, Kanto Lampo namanya. Perjalanan ke Kanto Lampo lumayan jauh dan panas! saya pun sampai di hostel setelah magrib dan langsung beristirahat untuk perjalanan keesokan harinya ke Gili Trawangan. Simak ceritanya di artikel ini:

Air Terjun Kanto Lampo
Air Terjun Kanto Lampo

Day 3 Gili Trawangan (Sesepedahan, Sunset Point & Bar)

Pagi hari saya menuju Padang Bai menggunakan shuttle bus dari satu agen daerah Kuta dengan harga Rp 35.000, perjalanan dari Kuta menuju Padang Bai lumayan jauh, sekitar 2,5 jam karena shuttle bus pun menjemput orang-orang dari berbagai daerah juga. Sampai di Padang Bai saya membeli tiket speed boat seharga Rp 150.000 menuju Gili Trawangan, lama perjalanan sekitar 45 menit. Sebenarnya ada cara lain yang lebih murah tapi dengan waktu yang lumayan lama, yaitu membeli tiket ferry ke Pelabuhan Lembar sebesar Rp 45.000 lama perjalanan 5-7 jam perjalanan dan naik angkot sampai Pelabuhan Bangsal Lombok sebesar Rp 15-30 ribu lanjut naik ferry menuju Gii Trawangan dengan harga Rp 15.000. Lebih murah tetapi lebih lama, tinggal pilih aja :)

Di Gili Trawangan, saya stay 1 malam di Villa Phy Phy Gili Trawangan yang nyaman dan relaxing! Selain itu saya bersepeda keliling pulau, menikmati sunset dan mengunjungi beberapa bar di Gili Trawangan. Simak cerita lengkapnya disini:

bersepeda di gili trawangan
Salah satu aktifitas seru di Gili Trawangan, bersepeda!

Day 4 Terminal Mandalika Lombok - Sape

Dari Gili Trawangan, pagi harinya saya menyebrang ke Pelabuhan Lembar dengan harga Rp 15.000. Dan naik ojek menuju Terminal Mandalika Lombok naik ojek seharga Rp 35.000! Harga itu kebilang murah banget karena naik mobil sewaan sekitar Rp 150.000, naik angkot belum tentu ada karena jarang banget, yaudah hajar naik motor, selama 1 jam menuju Matarram. Sampai di Terminal Mandalika, rencana awal saya pengen ngeteng lagi hanya menuju Pelabuhan Kayangan lalu cari bus di Pelabuhan Pototano Sumbawa, tapi pas di Terminal Mandalika ada bus yang langsung menawarkan langsung sampai ke Bima, dengan harga Rp 200.000 dan saya tawar menjadi Rp 175.000 plus makan 1 kali. Nama busnya Surabaya Indah, dan menurut informasi bus ini berangkat setiap jam 3 sore dari Lombok. Perjalanan dari Matarram ke Pelabuhan Kayangan sekitar 2 jam. Sampai di Pelabuhan semua penumpang turun untuk masuk menuju kapal.

pelabuhan kayangan
Pelabuhan Kayangan, cantik yahhh?
Dari Pelabuhan Kayangan, kapal menuju Pelabuhan Pototano dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Sebelum masuk kapal saya beli keripik dan snack entah apa namanya yang penting buat masuk sedikit makanan biar gak mabuk. Sayangnya, sampai di Pelabuhan Pototano hari sudah gelap padahal saya ingin lihat daratan Sumbawa yang katanya bagus. Mungkin lain kali bisa dijadwal lagi ke Sumbawa sekalian ke Sumba, next tripppp! Dari Pelabuhan Pototano menuju Bima, perjalanannya bakal panjang banget sekitar 8 jam perjalanan bakal ditempuh, untungnya malam jadi bisa tidur nyenyak di perjalanan. Sekitar jam 11 malam di Sumbawa Besar, bus berhenti di tempat makan untuk makan malam. Makannya ya seadanya, tahu tempe, sayur dan ayam, tapi enak enak aja sih laper juga :))

Sekitar jam 5 subuh akhirnya bus mendarat di Terminal Bima, seperti biasa banyak calo yang tawarin ojek dan bus lainnya. Tapi menurut saya calo di Bima ini calonya santun-santun ga sampe pegang fisik dan nawarinnya seadanya. Gak bakal diikutin juga kok walaupun mukanya serem-serem ala timur. Dari Terminal Bima ini saya naik elf menuju ke Pelabuhan Sape lama perjalanannya sekitar 4 jam! karena 3 jam ngetem diterminal nunggu penumpang penuh zzzzz. Tapi tak apa lah yang penting murah, harganya cuma Rp 25.000 dan karena saya bareng sama ibu-ibu yang tadi pagi ngobrol, saya dibilangin sebagai anaknya jadi cuman bayar Rp 15.000 :D Sampai di Pelabuhan Sape saya langsung beli tiket menuju Labuan Bajo sebesar Rp 60.000 sama bungkus nasi buat makan dijalan, karena kalo beli di kapal pasti jauh lebih mahal.

Meninggalkan Sape menuju Labuan Bajo, Flores!

Day 5 Pelabuhan Sape - Labuan Bajo

Perjalanan dari Sape menuju Labuan Bajo normalnya 7 jam, tapi karena gelombang lautnya waktu itu sedang besar, total perjalanannya menjadi 10 jam + ngantri di pelabuhannya! Baru kali itu saya merasakan yang namanya mabok laut karena hampir setengah hari ada di lautan. Tapi, setelah sampai di Labuan Bajo, saya disambut oleh sunset yang luar biasa cantiknya! Rasanya campur aduk, capek tapi senang akhirnya bisa sampai di Labuan Bajo melalui perjalanan yang panjang itu.

First sunset in Labuan Bajo!
First sunset in Labuan Bajo!
Sampai di Pelabuhan Labuan Bajo, saya jalan kaki menyusuri jalan utama yang ada di Labuan Bajo, jalan utamanya hanya 1 kok jadi gausah bingung. Saya mencari hostel yang sudah saya temukan di internet sebelumnya namanya Cool Corner Hostel gak ketemu-ketemu, tapi saya menemukan hostel lain namanya Kampung Bule Hostel dengan harga yang lebih murah hehe Rp 50.000 semalam. Tapi memang gak AC sih, tapi yowes gak apa-apa yang penting masih comfortable buat tidur. Di hostel itu saya bertemu teman dari Lombok, Mariu bocah Lombok yang tinggal di Makassar entah kenapa nyasar ke Labuan Bajo hahaha

Day 6 Labuan Bajo (Amelia Sea View dan Dermaga Putih)

Hari pertama di Labuan Bajo rencananya saya tidak melakukan apa-apa karena memang mau istirahat dulu setelah perjalanan panjang, cuman lihat sana-sini dan cari nelayan dan teman yang mau join untuk berangkat ke Pulau Komodo dan pulau lainnya. Beruntungnya di hostel, saya bertemu dan ngobrol dengan Bang Bonito, warga lokal Labuan Bajo yang punya kapal. Sore itu, saya diajak Bang Bonito keliling tempat-tempat cantik di Labuan Bajo yaitu Amelia Sea View dan Dermaga Putih for free lohhhh~

Amelia Sea View
Me and Bonito in Amelia Sea View
Amelia Sea View
Another view of Amelia Sea View
Dermaga Putih Labuan Bajo
Dermaga Putih Labuan Bajo
Sebenarnya untuk ke Komodo, saya ingin berangkat 2 hari 1 malam dan Live On Board di kapal. Tapi saat itu susah banget cari teman lokal atau mancanegara karena lagi musim sepi. Banyak sih orang mancanegara tapi mereka jarang banget ada yang mau ke Pulau Padar. Padahal kalau orang kita kan itu yang wajibnya! Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke pulau-pulau one day trip aja dan ikut rombongannya kapal Bang Bonito. Sambil menunggu teman lain yang mau berangkat ke Pulau Padar, keesokan harinya saya berangkat ke Pulau Rinca, Manjarite dan Pulau Kelor.

Day 7 Komodo (Pulau Rinca, Manjarite, Pulau Kelor)

Hari pertama saya berangkat pagi hari sekitar jam 8 menuju ke Pulau Rinca, mungkin perjalanannya sekitar hampir 3 jam perjalanan karena Pulau Rinca ini letaknya di ujung dekat Pulau Komodo. Sampai di Rinca, saya dan rombongan langsung membayar entrance fee di loket pembayaran. Untuk lokal sekitar Rp 60.000 dan untuk mancanegara 2 kali lipatnya. Di Pulau Rinca ini ada 3 option, bisa ambil yang short, medium atau long trip. Sesuai kesepakatan, kami ambil yang medium dan treking selama 2 jam keliling Pulau Rinca hanya menemukan 1 komodo di sarangnya, dan menemukan 7 komodo di dapur dekat kita memulai treking ppfftttt!

Komodo
Komodo!
Sehabis dari Pulau Rinca kapal kapi menuju Pulau Kelor. Tapi sebelumnya, kami berhenti di satu spot untuk snorkling di tempat yang dinamakan Manjarite. Tapi kalo saya gak lama nyebur di air karena gak enak buat snorkling, gelombangnya gede banget dan karangnya juga bisa aja jadi naik ke atas kapal, tiduran aja lagi :D

Tiduran dulu :p
1 jam snorkling, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kelor. Letaknya tak jauh dari Manjarite tadi hanya sekitar 15 menit sudah sampai. Di Pulau Kelor ini semua orang punya kegiatannya masing-masing. Ada yang snorkling, ada yang berjemur, ada yg mojok #eh. Kalo saya, bersama 3 pejantan lainnya treking ke puncak Pulau Kelor, katanya viewnya bagus dari atas. Treknya lumayan susah karena kemiringannya hampir 90 derajat kayanya hahahaha tapi lebih susah turunnya dibanding naiknya, percaya deh. Pemandangan dari atas Pulau Kelor cantik bangets! karang-karang di sekitar pulau terlihat jelas, sayangnya rada mendung. Kalo cerah pasti lebih kece!

View dari atas Pulau Kelor
View dari atas Pulau Kelor
Sehabis dari Pulau Kelor kapal kembali ke Labuan Bajo dan rombongan kembali ke penginapannya masing-masing. Saya kembali ke hostel dan makan malam di Kampung Ujung sebelum beristirahat. Kampung Ujung ini adalah tempat makan kuliner di sisi paling timur Labuan Bajo, ada pecel, nasi goreng , dan makanan seafood disini. Harganya standar mulai dari Rp 15.000 - Rp 75.000. Sepulang dari makan malam, beruntungnya saya lagi, ada tour yang menawarkan tour ke Padar untuk keesokan harinya, sekalian sama Pulau Komodo dan Manta Point, tanpa pikir panjang saya langsung ambil tour itu karena harganya juga masih masuk akal lahhhh. Akhirnya berangkat juga ke Padar!

Day 8 Komodo (Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point)

Karena Pulau Padar letaknya jauh, jadi rombongan jam 7 pagi sudah berangkat dari dermaga. Perjalanan ke Pulau Padar sekitar 3,5 jam untungnya masih pagi, jadi enak bisa tidur dijalan. Sekitar jam 11 siang, kapal akhirnya sampai di Pulau Padar! View dari pantainya aja udah cantik banget! Jadi gak sabar sampai puncak.

Pantai Padar
Masih di pantai tenang~
Dari pantai ini terlihat orang-orang lagi treking di sisi bagian kiri, dan terlihat treknya menjulang ke atas whoaaaaaa. Daripada cape mikir, saya dan teman-teman mulai treking ke atas tanpa bawa botol air minum (suka pinter yah). Dari pantai menuju ke puncak lamanya sekitar 30 menit kalo tanpa berhenti. Kalo saya lebih mending tanpa stop naiknya, nanti pas turun baru hunting foto-fotonya. Kata salah satu orang disana, mending di tengah untuk spot foto daripada di puncak, kalo di puncak katanya gak kefoto pemandangan ke arah 3 pantai didepannya itu, jadi saya cari spot yang mantap di spot tersebut untuk ambil foto. Mau dari arah mana pun fotonya tetep bagus, gimana dong?!

Foto dari puncak Pulau Padar
Foto dari puncak Pulau Padar!!!
Sudah sekitar 2 jam di Pulau Padar, kapal berangkat menuju Pulau Komodo. Di Pulau Komodo ini kita bisa memilih mau ke Pulau Komodo untuk lihat komodo atau ke Pink Beach, karena saya udah liat komodo kemarinnya, jadi saya pilih ke Pink Beach. Perahu pun singgah dulu di Pink Beach dan beberapa orang yang ke Pink Beach akan dijemput lagi sekitar 1,5 jam setelah orang yang treking di Komodo selesai.

Dari kejauhan, Pink Beach ini tidak terlalu pink seperti di Lombok. Taoi setelah menyentuh pantainya, memang pasirnya berwarna pink dan pantainya luar biasa cantiknya! Di Pink Beach ini kita bisa naik ke puncak bukit sebelah kanan dan kiri serta bisa juga snorkling. Dan menurut saya ikan dan terumbu karang di Pink Beach ini bagus, lebih bagus daripada Manjarite trip saya sehari sebelumnya. Saya betah 1 jam snorkling di tengah laut sampe gosong kulit sampe sekarang! :))

Pink Beach
Pink beach dari bukit
Pink Beach
Pink Beach
Setelah 1,5 jam di Pink Beach, bergosong ria akhirnya kapal yang kami tumpangi sudah menjemput kita dan menuju ke Manta Point. Dari Pink Beach menuju ke Manta Point lama perjalannya sekitar 45 menit. Di Manta Point semua orang sudah bersiap menggunakan peralatan snorkling, jadi nanti kalo manta terlihat, kita tinggal nyebur. Agak sulit waktu itu untuk menemukan manta, tapi 15 menit kapal berputar akhirnya kami melihat sekawanan manta dibawah kapal kami dan tanpa pikir panjang saya pun terjun ke bawah dan mengabadikan momen itu. Rasanya merinding karena persis dibawah saya ada 3 manta ukurannya besar sekali dan saat itu baru saya yang turun kebawah. Tapi the feels so good! Tapi sayangnya, saya gak punya fotonya cuman ada videonya. Videonya bisa dilihat di Instagram @irhamfaridh. Hanya menemukan 1 rombongan manta itu sesudahnya, kami tidak melihat manta lainnya lagi karena gelombangnya semakin besar, akhirnya kita naik lagi ke kapal dan berangkat pulang ke Labuan Bajo dan beristirahat dengan tenang dan puas karena trip hari ini seru sekali!

Day 9 Males-malesan

Hari ke 9 di trip, saya hanya santai aja di hostel sambil keliling cari makanan kalo laper. Asalnya mau ada rencana ke Kelimutu dan Waerebo tapi waktu gak cukup karena udah booking flight keesokan harinnya. Mungkin nanti lain waktu saya bakal start di Labuan Bajo dan explore NTT sampai ke ujung timurnya. Oh iya, kamar hostelku yang seharga Rp 50.000 punya view cakep didepannya loh, langsung menghadap ke laut, jadi seharian depan teras pun gak bosen :p

Kampung Bule Hostel
Kampung Bule Hostel

Day 10 Go back to Bandung! (Komodo Airport)

Hari terakhir di Labuan Bajo saya berpamitan sama teteh hostel yang setia menyediakan apapun yang saya butuhkan dan teman-teman di hostel lainnya. Karena jarak hostel dan bandara tidak terlalu jauh, saya memutuskan jalan kaki! Denger-denger dari temen katanya cuman 15 menit, nyatanya lebih dekit lah, tapi yang bikin berat adalah jalanannya menanjak dan panasnya naujubileh! Sampai di Bandara saya langsung check-in dan masuk ke ruang tunggu. Bandara Komodo ini kecil, ruang tunggunya aja hanya 1 area. Tapi interiornya sudah bagus lah kelas Internasional, tapi katanya bandara ini bakal di perbesar lagi nantinya agar pesawat boeing nantinya bisa mendarat disini. Selama ini hanya pesawat-pesawat ATR saja yang bisa mendarat disini.

Komodo Airport
Komodo Airport
Disini juga pengalaman saya menggunakan pesawat ATR dan rada sedih juga meninggalkan Labuan Bajo karena harus kembali ke kehidupan biasanya lagi yang saya harus memulai dari awal lagi sepulang dari Australia. Thanks teman-teman yang sudah membantu dan bertukar fikiran selama perjalanan 10 hari ini. Semoga kita sukses di masa depan! Good bye Labuan Bajo, see you again!

Irham Faridh Trisnadi (Tris)
I'm a backpacker who have a dream to have my own business and travel the world! 
Twitter       : @irhamfaridh
Instagram   : irhamfaridh
Facebook   : Irham Faridh
E-mail        : irham.faridh@gmail.com
Travel, Love & Be Happy!

Sep 21, 2016

Sesepedahan di Gili Trawangan

sepedahan di gili trawangan
Sepeda, transportasi yang sering digunakan wisatawan di Gili Trawangan
Sebelumnya saya pernah mengunjungi pulau indah yang berada di Lombok ini, Gili Trawangan tahun lalu saat Backpacker ke Bali dan Lombok selama 8 hari. Namun, kala itu saya hanya berkunjung di Gili Trawangan beberapa jam saja, sekedar hanya ingin tau bagaimana kondisi di Gili Trawangan seperti apa. Kali ini, akhirnya saya bisa kembali ke Gili Trawangan lagi untuk transit selama 1 malam dalam perjalanan saya berjudul Backpacking ke Flores (Labuan Bajo dan Komodo)! Sebelum menuju Gili Trawangan ini saya sempat stay di Bali 2 hari dan berkunjung ke Air Terjun Kanto Lampo.

Cara Menuju Gili Trawangan

Dari Bali, saya menggunakan speed boat menuju Gili Trawangan dari Padang Bai seharga Rp 150.000 satu kali jalan, kalo turis mancanegara lebih mahal lohhh. Perjalanan mengunakan speed boat dari Padang Bai Bali menuju Gili Trawangan lamanya sekitar 45 menit. 1 kapal mungkin berisi sekitar 20-30 orang. Speed boat ini selalu ada jadwalnya setiap hari dan setiap jam jadi jangan takut kehabisan, tapi ngantrinya? lama beudhz! saya pun waktu itu nunggu kapal hampir 2 jam!

Ada cara lain yang lebih murah berdasarkan pengalaman backpacking ke Gili Trawanga beberapa tahun lalu yang saya lakukan yaitu membeli tiket ferry dari Padang Bai Bali menuju Pelabuhan Lembar Lombok sebesar Rp 45.000 dan lama perjalanannya 5-7 jam perjalanan sesuai gelombang laut dan antrian di Pelabuhan Lembarnya. Sesampai di Pelabuhan Lembar, bisa sewa angkot sebesar Rp 15.000 - Rp 30.000 (sesuai nego) menuju Pelabuhan Bangsal. Di Pelabuham Bangsal, beli tiket kapal menuju Gili Trawangan di loket karcis sebesar Rp 15.000. Jadi total hanya sekitar Rp 75.000 namun dengan waktu yang jauh lebih lama. Tapi sekali-kali untuk pengalaman okelah :)

speed boat Gili Trawangan
Speed boat yang saya tumpangi bersandar di Gili Trawangan

Penginapan di Gili Trawangan

Sampai di Gili Trawangan, saya disambut oleh pasir yang sangat lembut dan air laut yang jernih! Dari pantai terlihat jelas air yang sangat biru dengan gradasi biru muda dan tua! Tak berlama-lama di pantai karena keberatan bawa tas, saya pun langsung menuju hotel yang terletak tidak jauh dari dermaga. Selama 1 malam di Gili Trawangan, saya punya kesempatan untuk menginap di salah satu properti ZEN Rooms bernama Villa Phy Phy Gili Trawangan. Lokasinya tidak jauh dari dermaga, tempatnya tidak terlalu dekat dengan bar jadi tempatnya pas untuk relaksasi. Untuk review lengkapnya bisa dicek disini:


Villa Phy Phy Gili Trawangan
Villa Phy Phy Gili Trawangan

Aktivitas di Gili Trawangan

Setelah menyimpan barang, saya pun langsung menyewa sepeda di villa tempat saya menginap dengan harga Rp 50.000 untuk seharian. Rata-rata semua penginapan di Gili Trawangan menyediakan penyewaan sepeda, jadi gak perlu jauh-jauh cari penyewaan sepeda, langsung tanya aja ke tempat penginapan kalian tinggal. Transportasi di Gili Trawangan lainnya yaitu cidomo, tapi harganya mahal yaitu Rp 50.000 sekali jalan berapapun jauhnya, mungkin murah kalo rame-rame tapi kalo sendiri sepertiku itu mahils kakaknyaaah. Selain kedua transportasi tersebut, tidak ada lagi transportasi lain yang digunakan di Gili Trawangan karena di pulai ini, tidak boleh ada kendaraan bermotor, makannya udara disini bersih sekali! coba hirup aja sendiri #hembuskan napas jangan coba-coba hembuskan napas di cidomo tapi ya? nanti bukannya segar, malah adanya bau tai kuda! :))

Ayo sesepedahan di Gili Trawangan!
Rasanya udah lama gak "sesepedahan" lagi semenjak masuk bangku SMA. Sesepedahan adalah Bahasa Sunda yang artinya bersepeda dalam Bahasa Indonesia. Saya mulai sesepedahan berkeliling pulau dari dermaga hingga berputar ke arah timur pulau, melewati banyak tempat dan hotel-hotel mewah serta bar-bar di pinggir pantai. Kadang saya berhenti untuk mengambil foto kegiatan-kegiatan warga dan wisatawan lain di pulau ini, rasanya ingin hidup di pulau ini tanpa memikirkan urusan lain di dunia :p

beach life
Wisatawan dan warga bermain voli bersama
Tujuan akhir saya yaitu menuju Sunset Point, kata abang villanya sunset disini bagus banget, karena dulu pas kesini gak sampe sunset, jadi kali itu saya harus menuju kesana. Di perjalanan seperti biasa melewati hotel dan bar-bar dipinggir jalan, terkadang ada adek-adek gemes juga lewat #ehhhhh. Mungkin dari dermaga menuju Sunset Point ini lama perjalanan menggunakan sepeda yaitu sekitar 15-20 menit. Jalanannya kadang dari paving blok kadang juga pasir pantai doang yang membuat kita keberatan memboseh sepeda. Di Sunset Point ini ternyata udah banyak orang yang menunggu detik-detik sunset. Di Sunset Point ini lah orang-orang kere berkumpul, eh gak kere deng orang yang berhemat halusnya hahaha karena di Sunset Point ini gak dipungut biaya, berbeda dengan di bar-bar mungkin kita harus mebayar sekitar Rp 30-40ribu lebih untuk minuman. Ada banyak bar-bar di sekitar Sunset Point ini, harganya standard mulai dari Rp 30.000 sampai up to Rp 90.000. Sesudah menikmati sunset di Sunset Point pun saya berkunjung ke Sunset Bar yang ada di sebelah Sunset Point.

Sunset di Sunset Point
Sunset di Sunset Point
Setelah sekembalinya dari Sunset Bar, saya kembali menuju villa untuk mandi karena badan udah bau asem :))  Setelah mandi saya keluar untuk cari makan malam. Sebenarnya untuk makan malam banyak sekali pilihannya di Gili Trawangan ini. Ada makanan gerobak, ada makanan yang di pasar malem, ada yang di restoran dan bar-bar. Kebetulan trip saya masih panjang menuju Flores, jadi saya coba untuk mengirit, jadilah makan di pasar malam. Bukannya ngirit yang ada malah menangis :( nasi 3 suap, sama 3 laut seencrit dihargai Rp 65.000 :( setelah makan itu pun saya makan bakso lagi diperjalanan pulang 2 piring dengan harga Rp 15.000 kenyang sudah!

Pulang ke penginapan, saya bersantai-santai dulu di depan kamar sambil melihat bintang, dan berangan-angan masa depanku nanti seperti apa cielaahhh udah lah sare! (tidur). Paginya saya disuguhi sarapan yang mengenyangkan dari Villa Phy Phy, lumayan untuk perjalanan selanjutnya menuju Lombok untuk naik bus menuju Sumbawa! Dijamin deh, sekalinya ke Gili Trawangan pasti nagih pengen balik lagi! Awas kecanduan! Good bye Gili Trawangan, see you again someday!

Gili Trawangan
Good bye Gili Trawangan!
Irham Faridh Trisnadi (Tris)
I'm a backpacker who have a dream to have my own business and travel the world! 
Twitter       : @irhamfaridh
Instagram   : irhamfaridh
Facebook   : Irham Faridh
E-mail        : irham.faridh@gmail.com
Travel, Love & Be Happy!

Sep 20, 2016

Kanto Lampo, Air Terjun Cantik di Gianyar Bali

Air Terjun Kanto Lampo
Air Terjun Kanto Lampo
Pagi itu, awalnya saya berencana untuk berangkat menuju ke Nusa Lembongan dan Ceningan melalui pelabuhan Sanur. Karena bangun kesiangan saya baru sampai di Sanur sekitar jam 10 siang. Setelah tanya ke loket pembelian tiket ternyata masih ada penyebrangan ke Nusa Lembongan jam 11 siang, saya dan teman-teman pun akhirya membeli tiket tersebut. Sambil menunggu keberangkatan kapal, kita menuju KFC untuk makan siang. 15 menit sebelum keberangkatan kita kembali menuju pelabuhan dan kapal sudah menghilang! #lohkok kata si bapa tiket, tadi masnya udah dipanggil 3 kali, tapi kan paaa..... katanya jam 11 berangkatnya zzzzzz untungnya uang tiketnya dikembalikan 100% sama si bapa tiket. Untuk menghilangkan kekesalan kami pun menuju pantai untuk menghembuskan nafas kekesalan #eaaaa

Pantai Sanur
Selesai bermain-main di Pantai Sanur, kami melihat waktu masih sekitar jam 12 siang artinya masih banyak waktu untuk mengunjungi tempat lain. Tapi yang bikin pusing karena saya, dan teman-teman saya (bule Prancis dan Argentina) yang udah tinggal di Bali lebih dari 1 bulan itu sudah mengunjungi hampir semua tempat wisata terkenal di Bali, akhirnya saya pun coba searching lokasi yang unik dan masih belum banyak dikunjungi oleh wisatawan. Hampir 1 jam kami berbicara kemana selanjutnya kita pergi, akhirnya kami menemukan tempat yang bernama Air Terjun Kanto Lampo!

Kanto Lampo ini terletak di daerah Gianyar Bali, sekitar 2 jam perjalanan dari Kuta atau 1 jam dari Sanur. Lokasinya lumayan sulit untuk ditemukan karena masuk ke pemukiman-pemukiman warga. Dari pelabuhan Sanur tinggal belok kanan lurus terus sampe ada tulisan Gianyar ke arah kiri! Nanti ada perempatan lurus terus sampai nemu baliho besar dengan tulisan Kanto Lampo Waterfall. Untuk lengkapnya ini lokasi dan map ke Air Terjun Kanto Lampo di Gianyar:
Br. Kelod Kangin, Desa Beng, Kabupaten Gianyar, Bali 


Ketika hampir sampai ke lokasi air terjun, kami disuguhi oleh pohon-pohon yang rindang! ah sejuknyaaa karena sepanjang perjalanan kepanasan dan banyak debu dari truk-truk. Dari lokasi parkir menuju air terjunnya tidak terlalu jauh tapi kita harus menuruni anak tanga yang lumayan banyak. Tapi view di air terjun worthed banget loh! Sebelum sampai dibawah, jalanannya agak licin jadi lepas dulu sandalnya agar tidak kepeleset.

Ini jalan menurun menuju Air Terjun, bukan iniloh air terjunnya! :))
Air terjun ini katanya mengalir dari sumber mata air bukan dari sungai! jadi kebayang toh segarnya seperti apa? Sampai di air terjun saya langsung buka baju dan nyebur tanpa mikir panjang walaupun gak bawa baju ganti! :)) Enaknya lagi di air terjun ini belum banyak wisatawan yang datang hanya 1-2 rombongan aja, jadi masih dapet banget naturenya~

Untuk yang mau dateng ke air terjun ini, keep clean dan jaga kelestarian lingkungan yaaa! Karena biasanya nanti kalo wisata ini udah ramai, jadi jorok dan banyak sampah. Sungguh Wonderful Indonesia!

Tiduran sambil menikmati geericik air dan segarnya air dari Air Terjun Kanto Lampo!


Bertapa di Air Terjun Kanto Lampo, enak kayak dipijit loh!
Irham Faridh Trisnadi (Tris)
I'm a backpacker who have a dream to have my own business and travel the world! 
Twitter       : @irhamfaridh
Instagram   : irhamfaridh
Facebook   : Irham Faridh
E-mail        : irham.faridh@gmail.com
Travel, Love & Be Happy!